3.7.09

Festival Jajanan Bango 2009: Bandung


Setelah putaran pertama berlangsung sukses di Plaza Timur, Senayan, 23-24 Mei 2009, lalu, kini giliran Bandung yang akan dimanjakan oleh Kecap Bango dengan Festival Jajanan Bango 2009, pada Minggu, 11 Juli 2009. Bertempat di Lapangan Tegallega, Bandung, FJB putaran kedua ini juga akan disemarakkan oleh kehadiran Surya Saputra (host Bango Cita Rasa Nusantara) dan Kris Dayanti akan menghibur para pengunjung di ajang festival kelezatan sepenuh hati tersebut.

Di arena FJB yang dibuka mulai pukul 12.00 waktu setempat, pengunjung bisa menikmati hidangan khas nusantara yang disajikan dengen sepenuh hati. Hadir sebagai duta Bango di Bandung antara lain;
Pondok Sate Pejompongan Jakarta,
Rujak Cingur Sedati Surabaya,
Tengkleng Ibu Edi Solo,
Brongkos Daging Ibu Suprih Yogyakarta,
Nasi Lengko Warung Makan Pi'an Tegal,
Tahu Goreng Sri Putih Medan,
Bakmi Jawa Rileks Semarang, dan
Kupat Tahu Gempol Bandung, serta masih banyak lagi yang lainnya.

INFO:
Radityo HP. 08179802250

Sphere: Related Content

Digoyang Kelezatan Ayam Goreng Khas Jawa


JAKARTA | Ayam kampung berukuran mungil digoreng hingga kuning kecokelatan. Luarnya krenyes-krenyes gurih renyah. Bagian dalamnya lembut empuk. Setelah dicocol dengan sambal bajak racikan pak Rachmat mulai terasa garang menonjok. Gurih pedas dahsyat mengorek lidah!
Terlihat sederhana, ayam goreng. Namun, sebenarnya justru kesederhanaan inilah yang bikin rasa kangen tak tertahan. Seperti saat saya melintasi jalan Melawai. Langsung ingatan saya terbang ke masa-masa sering ngumpul di kawasan ini untuk menikmati jajanan malam. Termasuk ayam goreng dengan nasi hangat plus sambal.
Jajaran warung makan di jalan Panglima Polim III ini sudah ada sejak tahun 80 an. Dari ujung spanduk yang berkibar memang bagaikan parade ayam goreng. Ada yang memakai sebutan ayam goreng Kalasan, ayam goreng asli Jawa dan ada juga yang ditambahi nama pemiliknya.
Pelopor ayam goreng Jawa di kawasan ini justru pak Rachmat, yang namanya juga ditulis di spanduk warung makannya. Jajaran meja bertaplak plastik dengan brand teh kemasan dilengkapi dengan kursi plastik. Karena baru menjelang maghrib maka pengunjung belum padat.
Mampir ke warung ini memang saya selalu memesan ayam goreng. Padahal ada pilihan lain seperti ayam bakar, hati ampela, usus, tahu dan tempe serta sayur asam. Sore ini saya menebus kangen ayam goreng ditemani sayur asam plus semangkok sup kaki ayam atau ceker.
Dari dulu pak Rachmat memakai ayam kampung seperti yang tertulis pada banner warungnya 'Asli Ayam Kampung'. Ayam kampung biasanya dibeli dan dipotong sendiri oleh para karyawan Pak Rachmat. Hanya saja kadang ukurannya kecil kadang lumayang besar.
Sore itu saya mendapatkan ½ ekor ayam yang saya pesan dalam ukuran kecil. Di warung ini ayam tidak dijual per potong tetapi per ekor atau minimal setengah ekor (yang berarti dada dan paha). Jadi tak bisa memesan dada saja atau paha saja.
Warna kuning kecokelatan ayam goreng terlihat cantik, menunjukkan proses penggorengan dengan suhu yang pas. Uapnya menebarkan aroma gurih bawang yang wangi. Sayatan pertama terbukti kulit luar ayam goreng ini garing renyah dan bagian dalamnya empuk lembut. Benar saja, tak ada bedanya dengan yang dulu biasa saya nikmati.
Rasa renyah-renyah gurih ini tak meninggalkan rasa manis sekali. Meskipun menyandang nama Jawa, ayam goreng ini bukan ayam berbumbu bacem. Jadi tak ada jejak rasa manis yang berlebihan. Saat dicocol dengan sambal bajak racikan pak Rachmat, rasanya makin dahyat.
Sambal ini merupakan pasangan andalan ayam goreng. Sambalnya hanya sambal biasa namun sekali lagi pengalaman membuat proses pemasakan sambal ini sangat pas. Pas asam pedas dan sedikit manis yang berasal dari tomat. Genangan minyak yang merah oranye sedikit kecokelatan menjadi ciri khasnya. Sambal selalu disajikan dalam mangkuk di meja dan bisa dimakan sepuas hati!
Sup ceker ayamnya berkuah bening, dengan potongan ceker ayam yang kecil-kecil dan rapi. Dilengkapi dengan wortel dan irisan daun bawang. Kuahnya terasa gurih dengan aksen rasa bawang yang tak berlebihan. Pas sebagai sup bening. Cekernya lembut, empuk, mudah dilepas dari tulangnya dan tidak lonyot.
Sementara sayur asam yang masih panas mengepul, kuahnya berwarna pucat. Rasanya tidak garang pedas tetapi justru gurih, sedikit asam. Setelah diaduk dengan sedikt sambal bajak, rasanya baru nendang, sedikit pedas. Kedua sajian berkuah ini serasi disanding dengan ayam goreng yang gurih renyah. Tak terasa semua pesanan pun licin tandas. Sebenarnya masih ingin menambah ayam goreng yang gurih renyah tetapi perut sudah terasa penuh sesak! Ah, yang penting rasa kangen mengulang kelezatan ayam goreng pak Rachmat ini sudah tertebus!
Kalau soal harga, ayam Berkah memang bisa diadu dengan yang lain. Untuk setengah ekor harganya Rp 16.000,00, seporsi sup dan sayur asam hanya Rp 5.000,00. Nah, kalau sedang jalan-jalan di lintasan Melawai ini, Anda bisa mampir memuaskan selera di warung ini! (dev/Odi)

Ayam Goreng 'Berkah' Rachmat
Jl. Melawai XIII
Dekat RSB Asih
Kebayoran Baru, Jakarta
Telp: 021 5736663
Mulai buka jam 17.00

Sumber: detikFood
Kunjungi juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

1.7.09

Nyate Kambing Tempo Doeloe Yuk!


JAKARTA | Daging kambing yang kenyal lembut ini sangat mudah di gigit tak hanya itu, aroma prengus pun tak terlacak sama sekali. Bumbu kecap dan juga potongan cabai rawit, tomat, dan bawang merah jadi pelengkap wajibnya. Sambal nya yang sedikit menggunakan kacang ini bisa menggigit lidah juga loh!

Melintasi Jl. Wolter Monginsidi membuat saya ingin mengenang kembali rasa sate kambing yang sudah cukup terkenal sejak lama. Yak, Warung Sate Cikajang namanya. Mungkin sudah dari jaman ibu saya muda dulu warung ini sudah berdiri bersamaan dengan warung bakmi Boy yang berada tak berapa jauh dari lokasinya.

Tak perlu berpikir lama, saya langsung memasuki warung tersebut. Suasananya tidak terlalu ramai, mungkin karena saya datang sudah lewat dari jam makan malam. Hmm..ternyata meskipun namanya warung sate Cikajang yang dijual tidak hanya sate saja. Mulai dari sop daging, sop tulang, nasi goreng, bahkan sampai dengan spaghetti juga tersedia loh!

Karena memang ingin makan satai, jadilah saya memesan seporsi satai kambing dan seporsi satai ayam untuk teman saya. Sambil menunggu pesanan datang, kerupuk emping yang dicocol dengan kecap jadi camilan.

Akhirnya satai ayam dan satai kambing yang ditunggu-tunggu datang juga. Seporsi satai ayam dan kambing berisi sepuluh tusuk, bisa diplih gabungan daging kambing dengan ginjal, atau daging kambing dengan ati, atau hanya daging kambing saja. Karena saya tak terlalu suka dengan ginjal ataupun hati jadilah satai kambing daging yang dipesan.

Potongan dagingnya cukup tebal dan besar. Yang unik dan menarik perhatian saya adalah acar dan sambalnya. Acarnya berupa kol mentimun dan juga wortel yang dirajang halus-halus. Sedangkan sambalnya dicampurkan dengan sedikit kacang. Jadi terkesan gurih-gurih pedas yang dahsyat!

Selain sambal, ada juga potongan cabai rawit, bawang merah, dan juga tomat yang diletakkan di bawah satainya. Sedangkan satai ayamnya tidak. Lumuran kecap manis yang menyelimuti satai kambing tak ketinggalan jejak sangit karena di bakar sangat enak. Dagingnya kenyal lembut tidak alot, dan yang paling saya suka adalah tidak ada jejak prengus si kambing.

Makan satai kambing ini harus dicampur dengan sambalnya, biar rasanya makin nonjok! Berbeda dengan satai kambing, satai ayamnya disajikan dengan lumuran sambal kacang yang halus. Warnanya cokelat pekat mungkin karena sudah tercampur dengan kecap.

Setelah satai ayam diaduk dengan bumbunya, hmm.. makin sedap sekali rasnaya. Apalagi disantap bersama dengan sambal dan juga acarnya yang asam asam segar. Ukuran daging ayamnya juga cukup besar loh! Dagingnya juga kenyal lembut, aroma yang sedikit sangit arang bikin nafsu makan saya bertamabah.

Wah, meskipun saya tidak menyantap satai ini dengan lontong tapi perut saya sudah kenyang terisi. Tak perlu waktu lama semua satai telah licin tandas. Seporsi satai kambing dan satai ayam ini cukup terjangkau loh, hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 26.000,00 untuk satai kambing dan Rp Rp 16.000,00 untuk satai ayam. (eka/Odi)

Warung Sate Cikajang

Jl. Wolter Monginsidi No.50
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp: 021-7245587

Sumber: detikFood
Mampir juga ke http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Kue Pengantin Betawi: Patangan Dilanggar, Kue Gagal


PELESTARIAN kuliner nusantara memerlukan kepedulian generasi muda. Hal itu disadari oleh pasangan suami-istri Nawiyah (35) dan Ahmad Rido (40). Mereka meneruskan usaha sang ibu (almarhumah) Hj Idop dalam membuat jajanan hantaran pengantin Betawi, seperti kue geplak, kue wajik, kue lapis pepe, uli, dan tape ketan, serta dodol betawi.
Beberapa jenis kue memang sering kita lihat di pasar, seperti kue pepe (kue lapis dari tepung sagu), tape dan ketan uli. Namun untuk geplak dan dodol sudah agak jarang yang membuatnya. Mungkin karena tingkat kesulitannya tinggi dan banyak tata cara dalam membuat panganan tersebut.
"Membuat dodol dan geplak banyak pantangannya. Percaya tidak percaya, kalau dilanggar bisa tidak jadi kuenya," kata Ahmad Rido, atau yang akrab disapa Edo, ketika ditemui di rumah sekaligus warungnya di Tegal Rotan, Bintaro.
Biasanya panganan itu khusus dipesan untuk hantaran pengantin Betawi. Ada juga yang pesan untuk hajatan (selamatan). Jadi pembuatannya berdasarkan pesanan.
Hanya dodol saja yang paling sering dibuat, meski tidak ada pesanan. Paling tidak dua hari sekali Edo memproduksinya dan dijual per kilogram. Kemasannya sengaja dibuat tidak terlalu besar. Sedangkan pada bulan Puasa, 15 hari menjelang Lebaran pembuatan dodol mulai meningkat. Adapun pesanan sudah harus dilakukan sebulan sebelumnya.
Biasanya, untuk pesanan hantaran pengantin, kemasannya memakai tenong (wadah bulat terbuat dari anyaman bambu) berukuran 15 cm x 15 cm atau 20 cm x 20 cm. Selagi panas langsung dicetak di wadah yang telah dialasi plastik bening. Harganya berkisar R 75.000-Rp 150.000.
Dodol Betawi buatan Nawiyah terasa legit tetapi tidak terlalu manis. Kadar rasa manis bisa dipesan sesuai selera. Begitu juga dengan geplak dan lainnya. Dodol terbuat dari beras ketan yang digiling lalu ditambahkan gula merah dan santan kelapa yang diambil patinya. Pembuatannya memakan waktu hingga tujuh jam.

Dipukul
Sedangkan geplak dibuat dari beras yang agak pera lalu digiling menjadi tepung dan disangrai, dicampur dengan kelapa parut yang juga sudah disangrai sebelumnya. Kemudian adonan itu dicampur dengan gula pasir yang sudah dicairkan hingga agak mengental dan selagi panas diaduk-aduk hingga menjadi adonan yang padat.
"Agak repot memang, apalagi dalam kondisi panas (meski awalnya pakai centong --Red) harus diaduk dengan tangan. Baru kemudian dicetak ditenong atau wadah lalu diratakan dengan tangan dengan setengah dipukul, karenanya disebut dengan geplak," tutur Nawiyah.
Supaya tidak lengket di tangan, di atas permukaan geplak ditaburi tepung giling yang disangrai, lalu didiamkan selama 2 jam sampai mengeras. Penampilannya jadi cukup menarik. Kue ini meski kelihatan kokoh tapi saat dimakan sangat empuk dan gampang hancurnya. Rasanya manis gurih. Tersedia dalam ukuran tenong 15 m x 15 cm dan 20 m x 20 cm harganya Rp 50.000-Rp 100.000.
Ketahanan kue geplak bila di suhu ruangan bisa sampai 3 hari, sedangkan di dalam kulkas bisa sampai seminggu dan akan semakin renyah. Sedangkan dodol bisa sampai tiga minggu di suhu ruang.
Pembuatan wajik pun tidak jauh beda dengan dodol dan geplak. Bahan dasarnya beras ketan yang direndam selama 6 jam supaya empuk, lalu dicampur dengan kelapa yang sudah disangrai, gula merah, dan santan. Semua bahan diaduk di atas api hingga dua jam sampai tanak. Harga per loyang Rp 50.000-Rp 100.000.
Selain itu mereka juga menerima pesanan kue pepe. Dibuat sesuai selera pemesan. Ada yang minta berlapis dengan warna merah putih atau hijau putih. Ada juga yang pesan cokelat semua, hanya lapisannya diberi kelapa muda sebagai variasi. Kue ini dikukus dan butuh kesabaran dalam membuatnya. Tersedia dalam ukuran 15 cm x 15 cm dengan harga Rp 35.000 dan ukuran 20 cm x 20 cm Rp 50.000.
Warung kue Nawiyah tidak terlalu besar. Selain menerima pesanan kue, juga menjual gado-gado dan laksa. Lokasinya berada di seberang Pasar Bintaro Jaya.

Pantangan
Usaha pembuatan kue hantaran khas Betawi ini dirintis Idop pada tahun 1987. Mulanya hanya coba-coba. Saat ada yang mau hajatan lalu minta dibuatkan, Idop menyanggupinya. Lama kelamaan menjadi usaha yang serius.
Dari ketiga anak Idop, hanya Nawiyah yang mengembangkan bakat membuat kue tersebut. Sebagai penerus, Nawiyah mengembangkan usaha ini dibantu sang suami. "Pesan ibu cuma satu, yaitu harus menjaga kualitas dan memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan. Kami harus selalu ramah juga," ujar ibu empat anak ini.
Mengenai pantangan dan tata cara selama pembuatan kue juga harus diikuti. Meski agak sulit diterima akal, imbuh Nawiyah, hal itu bisa menggagalkan pembuatan kue jika dilanggar.
Seperti pada saat membuat dodol, biasanya ada 'syaratnya' yakni disiapkan cabe merah dan bawang yang ditusuk dengan lidi, serta uang logam Rp 500 yang direndam di dalam air. Selama bahan dodol masih berbentuk adonan, si pengaduk tidak boleh punya pikiran negatif atau membicarakan yang jelek-jelek, tidak boleh banyak berbicara, tidak boleh kesal. Mendengar berita buruk seperti ada orang yang meninggal juga tidak diperbolehkan. "Makanya saya suka kejam sama anak kecil. Kasarnya mereka nggak boleh dekat-dekat kalau lagi membuat adonan," kata Rido.
Kebanyakan pembuat dodol memang laki-laki. Soalnya, butuh tenaga lumayan besar saat pengadukan. Dodol dimasak dalam kuali besar di atas bara arang. Diaduk dengan kayu yang berbentuk seperti dayung. Kalau hanya setengah kuali bisa dikerjakan dua orang, tetapi kalau penuh, paling tidak harus ada tiga orang yang mengerjakannya.
Rido menuturkan, dodol itu disebut juga dengan kue bacot (dalam bahasa Betawi artinya pembicaraan). Jika seorang besan datang dengan dodol yang bagus dan banyak jumlahnya, berarti termasuk orang kaya. Kalau dilihat tampilan dodolnya kurang baik maka akan jadi bahan pembicaraan pula. Ada-ada saja! (Dian Anditya M)

Warung Hj Idop/Nawiyah
Jalan Tegal Rotan 7 A, Bintaro
Telepon: 97965131


Sumber: Warta Kota/KOMPAS
Kunjungi juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Soto Tangkar


Katanya, makanan ini lahir pada masa penjajahan Belanda. Ketika itu, masyarakat Betawi hanya mampu membeli tangkar, potongan tulang iga yg hanya berdaging sedikit, yg kemudian diolah menjadi soto yg enak. Tapi tentu saja sekarang sudah berubah, kedalamnya kita bisa menambahkan daging dan jeroan, kalau suka. Walaupun kuahnya menggunakan santan, soto ini tidaklah terlalu "berat".

BAHAN:
3 L air untuk merebus
500 g tangkar (iga sapi muda), bersihkan
300 g daging sandung lamur sapi
2 lembar daun salam
2 batang serai, ambil bagian yang putih, memarkan
3 cm lengkuas, memarkan
3 sdm minyak untuk menumis
3 cm batang kulit kayu manis
2 lembar daun jeruk purut
200 g kikil, rebus, potong ukuran 2 x 2 x 1/2 cm
200 g jeroan sapi (paru, babat, usus), rebus, potong ukuran 2 x 2 x 1/2 cm
250 ml santan kental dari 1 butir kelapa parut
500 g kentang, kupas, potong-potong, goreng
3 buah tomat merah, potong-potong

Bumbu, haluskan:
12 butir bawang merah
8 siung bawang putih
3 buah cabai merah
2 sdt garam
7 butir kemiri, goreng
2 cm kencur
2 cm jahe
1 sdm ketumbar, sangrai
1 sdt jintan, sangrai
1 sdt merica butiran, sangrai

Pelengkap:

100 g emping goreng
7 buah jeruk limau, ambil airnya
4 sdm kecap manis
Sambal cabai rawit merah

Taburan:
2 batang daun bawang, iris halus
2 batang seledri, iris halus
2 sdm bawang merah goreng, siap pakai

CARA MEMBUAT:
Didihkan air, rebus tangkar dan sandung lamur bersama 1 lembar daun salam, 1 batang serai, dan lengkuas hingga empuk. Angkat tangkar dan sandung lamur, sisihkan kaldunya sebanyak 1.250 ml.
Potong-potong tangkar dan sandung lamur ukuran 2 x 2 x 1/2 cm. Sisihkan.
Panaskan minyak, tumis bumbu halus, kayu manis, daun jeruk purut, serai, dan daun salam, hingga harum dan matang. Angkat.
Didihkan kaldu, masukkan bumbu tumis, tambahkan tangkar, sandung lamur, kikil, dan jeroan, aduk rata. Didihkan.
Tuangi santan. Aduk rata, didihkan. Masak hingga semua bahan matang. Angkat.
Siapkan mangkuk saji, letakkan kentang dan tomat, siram dengan kuah soto berikut isinya, bubuhi taburan. Sajikan hangat bersama pelengkap.

Untuk 6 porsi


Sumber: Femina dan www.pbase.com
Klik juga http://kecap-bango.blogsopt.com dan www.bangomania.org

Sphere: Related Content

28.6.09

Semua Serba dari Telo


MALANG | Jajanan khas yang tidak kalah menariknya adalah yang berbahan dasar telo. Jika Anda kebetulan sedang bepergian ke Malang, Jawa Timur, tidak ada salahnya untuk mampir di Pusat Penjualan Makanan Vegetarian yang terletak di utara pasar Lawang, Malang. Di tempat ini, dijual berbagai macam makanan yang bahan bakunya berasal dari telo.
Telo mentah yang harga pasarannya sekitar Rp 1.500 per kilogram ini jika dibuat menjadi makanan olahan ternyata mempunyai harga yang mahal, rasanya? Jangan tanya selain membuat tubuh sehat, rasanya pun tidak kalah enaknya !.
Misalnya seperti Bakpao Telo. Untuk panganan yang sangat enak saat disantap dalam kondisi hangat-hangat ini, memiliki tiga rasa pilihan yang dapat dinikmati, antara lain rasa keju, rasa coklat, dan rasa kacang hijau.
Usai mencicipi Bakpao, tidak ada salahnya juga mencicipi burger telo. Pada gigitan pertama, awalnya memang terasa aneh. Tetapi ketika dikunyah perlahan, ada rasa yang khas dan gurih yang dirasakan dari burger Telo.
Puas mencicipi bakpao dan burger, mie telo pun menjadi pilihan berikut untuk disantap. Olahan mie telo tidak berbeda dengan mie-mie yang ada. Dapat diolah dengan sayur-sayuran atau tambahan daging.
Puas menyantap hidangan dari bahan baku telo, jangan lupa untuk juga mencicipi es krim telo. Rasanya hampir sama dengan es krim biasa, cuma es krim telo ini lebih mudah mencair dan rasanya sedikit kurang manis. Tertarik untuk mencicipi...? Coba berkunjung ke Malang dan rasakan langsung nikmatnya berbagai olahan dari Telo. (n)

Sumber: Surabaya Post
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Dari Soto Lombok ke Es Tawon


MALANG | Mungkin setelah berenang di Wendit Anda merasa lapar, ada patutnya menjajal soto Lombok di Malang. Anda tinggal pilih ada dua tempat yang bisa dikunjungi. Yang pertama, Anda bisa menjajal soto Lombok di Jl. Lombok, depan SPBU Sawahan, kota Malang.
Semula warung ini kecil dengan konsep soto pikul yang mangkal aja di pojokan Jalan Lombok itu. Berdiri sekitar tahun 1960an. Soto Ayam ini sebenarnya dasarnya mempunyai rasa yang biasa aja, seperti soto ayam lainnya. Hanya keistimewaan soto ayam Lombok ini di bubuk koyanya, yang terbuat dari kelapa yang dibumbuin dan disangrai. Begitu juga irisan kentangnya yang mak nyus.
Kalo ditabur dengan koyahnya rasanya dah beda banget. Dengan mangkok cekung jadulnya. Lebih top lagi bila makannya bersama krupuk Palembang yang segede piring makan.
Ditempat lain, ada di daerah Lawang. Bila Anda ke arah Surabaya, sebelum memasuki pasar Lawang, di sebelah kanan jalan sebelum stasiun kereta apai Lawang ada ruko. Disitulah tempat soto Lombok berada. Harganya murah. Yang jelas terjangkau.
Di dalam kota sendiri banyak menyajikan makanan lezat, seperti nasi pecel Kawi yang berada di Jl. Kawi. Bumbunya yang pedas, nasinya yang punel dan sisajikan masih dengan daun pisang, membuat rasanya semakin nikmat. Di jalan Kawi juga ada bakso bola tenis yang memang besarnya satu bola tenis. Rasa daging sapi atau ayamnya sangat terasa sekali.
Warung Bu Haji Arema menu Jawa berada di perempatan Kidul Dalem-Pasar Besar. Warung ini pernah masuk wisata kulinernya Pak Bondan Winarno. Warung kecil ini menyajikan es tawon yaitu, es campur dengan gula asli. Disebut es tawon karena saat minum es ini Anda ditemani tawon yang tidak diketahui asal-usulnya. (gir)

Sumber: Surabaya Post
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Mbok Berek Garden - Legenda Sejak 1830


SURABAYA | Mendengar namanya, sudah banyak yang tahu mengenai tempat makan ini. Bagi penggemar ayam goreng khas Kalasan, Jogjakarta, nama Mbok Berek sepertinya sudah menjadi legenda yang sampai sekarang masih menjadi jaminan untuk rasa dan kualitasnya.
Popularitas itu ikut diturunkan pula hingga ke generasi ke limanya, yang kini membuka Mbok Berek Garden di kawasan Jemursari Surabaya. Usaha makanan ini sendiri telah berdiri sejak 1830.
Meruntut kembali kisahnya, generasi pertama yang mengenalkan Mbok Berek ini adalah Ronodikromo, perempuan desa yang memiliki anak bernama Ronopawiro. Sebutan Berek sendiri awalnya hanya kebetulan, lantaran semasa kecilnya, Ronopawiro mempunyai kebiasaan yang cukup aneh, yaitu jika keinginannya tidak dituruti oleh orangtuanya maka ia akan berteriak meraung, yang dalam bahasa Jawa disebut berek-berek. Karena itulah Ronodikromo kemudian dikenal dengan nama Mbok Berek atau ibunya Ronopawiro yang suka berek-berek.
Sekitar 1830 Ronodikromo, memulai usaha dengan memotong 5 hingga 10 ekor ayam. Tidak disangka, makanan racikannya itu ternyata disukai oleh seorang bangsawan Jawa yang kebetulan datang ke tempat usahanya. Saat itu juga, bangsawan tersebut memberi saran, “Jika ingin hidup tentram dan bahagia, maka berdaganglah ayam goreng ini.”
Agus Setyanto, pemilik Mbok Berek Garden di Jemursari, menceritakan kenangan leluhurnya itu sebagai awal dari bisnisnya sekarang.
Dari situlah kemudian usaha ayam goreng Mbok Berek berlanjut turun temurun dan berkembang ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Termasuk di Surabaya sejak 1979.
Dengan resep yang masih terjaga selama lebih dari seabad tersebut, ayam goreng Kalasan khas Mbok Berek ini memang masih menjadi yang terfavorit di lingkungan warga Surabaya. Seperti yang dituturkan Rendi, salah seorang karyawan di kawasan Jemursari. “Ayam kampungnya benar-benar empuk dan rasa bumbunya juga teresap di dalam dagingnya. Apalagi sambal terasi yang mendukungnya, membuat sajian ini jadi kian lezat,” katanya.
Selain makanan, yang membuat Rendi merasa nyaman makan di Mbok Berek Garden ini ialah konsep bangunan yang sangat menunjukkan khas Jawanya. “Sangat teduh, banyak kayu ukiran dan tamannya juga asri. Musik Jawa yang sering diputar membawa kesan nuansa Jawanya,” tambahnya.
Selain ayam goreng, Mbok Berek Garden yang pernah memiliki 10 outlet di Surabaya ini juga menyajikan sejumlah makanan seperti ayam bakar, gudeg, tempe dan tahu bacem, ikan gurami bakar dan goreng, empal, serta ayam penyet.
Juga ada brongkos, makanan khas Jogja yang saat ini sudah sangat jarang ditemukan. “Ini menu kegemaran para raja di Jogja, berisi olahan daging, telur bebek utuh, tahu, kulit mlinjo dan tolo atau kacang merah,” ucap Agus.
Secara fisik, brongkos ini mirip rawon, tetapi lebih kental dan tahan lama.. Bahkan menurut Agus, sajian ini akan terasa lebih nikmat ketika dimakan 2 atau 3 hari setelah dimasak.
Namun, karena warga Surabaya tidak banyak yang tahu, makanan ini hanya disajikan untuk pesanan, tidak dijual secara regular. Sama seperti es teler yang merupakan sajian khas di Mbok Berek Garden, yang hanya dibuat sesuai pesanan. “Saat ini kami memang lebih banyak menerima pesanan dari pelanggan, biasanya untuk acara institusi yang dalam jumlah besar,” kata Agus.dwi

Kaderisasi Otomatis
Sebagai generasi penerus sajian Mbok Berek yang kelima atau disebut canggah, Agus Setyanto Dyas Pramono termasuk salah satu yang masih fokus untuk mengembangkan usaha makanan ini. “Kami sadari saat ini cukup banyak pesaing usaha ayam goreng di Surabaya. Tetapi dengan rasa dan kualitas yang kami jaga, kami masih bisa mengembangkan usaha ini lebih baik,” ujar bapak dari 4 anak ini.
Tak hanya bicara, dalam jadwalnya sudah terencana sebuah usaha besar untuk mengembangkan Mbok Berek Garden di tempat asalnya. “Selama ini Mbok Berek hanya bisa ditemui di kawasan pinggir Jogjakarta. Nah, kami ingin usaha ini berada di pusat kota Jogjakarta agar lebih dikenal wisatawan atau warga Jogja sendiri. Rencana tahun depan ini sudah dibuka,” kata Agus yang menyiapkan lahan 6 ribu m2 untuk tempat barunya itu.
Saat bercerita tentang generasi yang terus berlanjut dalam usaha ini, Agus mengatakan hal tersebut merupakan kaderisasi yang sudah berjalan secara otomatis. “Yang berhak memakai nama Mbok Berek ini adalah keturunan dari Ronodikromo atau Mbok Berek. Jadi semua keluarga mendapatkan hak untuk membuka usaha ini di manapun,” kata Agus yang beberapa kali sempat menegur sejumlah pengusaha lain yang menggunakan nama Mbok Berek.
“Selalu saya tanya ia trah atau keturunan dari siapa, karena hampir di setiap tempat makan Mbok Berek terdapat silsilah yang jelas,” imbuh pria yang sebelum membuka Mbok Berek Garden pada 1979 sempat bekerja sebagai supervisor di Hotel Hyatt Surabaya. (dwi)

Sumber: Surabaya Post
Klik dan kunjungi juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Kreasi Masakan Pelengkap Tumpeng Phoa Tjay Joen


SURABAYA | Saat menyantap nasi tumpeng yang biasa disajikan dalam acara selamatan, pasti akan ditemui beraneka ragam lauk pelengkap. Mulai urap-urap, sambal goreng tempe kentang dan kacang, hingga ayam bumbu rujak merah yang terasa gurih dan nikmat. Tiga masakan itulah yang sering dibuat oleh Phoa Tjay Joen.

Perempuan yang lebih akrab disapa Ibu Tirta Santosa tersebut memang ahli membuat tumpeng. Jadi, tidak heran bila dia bisa membuat masakan yang tidak sederhana itu. "Dulu, awalnya saya hanya coba-coba, tapi sekarang sudah benar-benar bisa," katanya.

Meski masih banyak lauk pelengkap dalam tumpeng, perempuan berusia 59 tahun tersebut mengaku bahwa masakan yang paling dikenal orang adalah ayam bumbu rujak merah buatannya. "Rahasianya, terletak pada ayam kampung. Jadi, dagingnya memang gurih," ujar nenek tiga cucu itu.

Memang, untuk membuat resep tersebut, perempuan kelahiran Surabaya itu tidak pernah memakai ayam petelur. Dia selalu menggunakan ayam kampung. Menurut dia, selain gurih, kandungan lemak di dalamnya tidak terlalu banyak sehingga para warga evergreen tak perlu khawatir untuk menyantap. Apalagi, dia menggunakan cara memasak tradisional. "Ayamnya dibakar dulu, baru diberi bumbu," ucapnya.

Sambal goreng tempe, kentang dan kacang juga menjadi andalannya. Sebab, sambal goreng buatan ibu tiga anak itu memiliki cita rasa yang khas. Selain tidak terlalu pedas, bahan tempe, kentang, dan kacangnya benar-benar renyah, tidak lembek. Sebab, air untuk memasak tidak terlalu banyak. "Kalau dimakan, langsung terasa kress," tutur dia.

Kerenyahan sambal goreng tersebut, lanjut dia, tidak hanya bertahan untuk satu hari saja. Asalkan disimpan dengan benar dalam wadah tertutup rapat, masakan tersebut bisa tahan hingga seminggu dengan tetap memiliki rasa dan kerenyahan serupa. "Kuncinya supaya renyah, saat menggoreng harus benar-benar garing," ujarnya.

Perempuan yang punya hobi menyanyi itu mengatakan, banyak manfaat dari masakan sambal goreng buatannya. Bahan utama tempe yang banyak digunakan bermanfaat untuk mencegah anemia dan osteoporosis (keropos tulang), dua penyakit yang sering dikeluhkan oleh para warga berusia di atas 50 tahun. Selain itu, tempe dipercaya dapat menjaga kesehatan karena bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Termasuk, mencegah penuaan. "Bawang putih yang cukup banyak digunakan sebagai bumbu dalam masakan juga berfungsi untuk mencegah kolesterol," jelasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan serat makanan, urap-urap segar buatan ibu Tirta patut dipertimbangkan. Sebab, urap tersebut menggunakan bahan utama berupa sayuran. Meski cara pembuatannya sederhana dan bahan yang digunakan juga tidak terlalu rumit, keuntungan dari makanan tersebut sangat banyak. Salah satunya, memperlancar pencernaan. "Setelah makan sayur, kita pasti bisa ke belakang," ucapnya, lalu tertawa.

Bermula dari Tumpeng Dadakan

Kepandaian Phoa Tjay Joen membuat tumpeng plus beraneka ragam lauk pendukungnya terjadi karena tidak disengaja. Itu diawali ketika ada kegiatan pembukaan toko baru milik suaminya, Tirta Santosa. Saat itu, sebagai seorang istri, dia ditunjuk untuk mengurusi hal yang berkaitan dengan konsumsi. Termasuk, menyiapkan tumpeng lengkap sebagai syarat dalam tradisi selamatan. "Waktu itu saya bingung mencari penjual tumpeng, sudah mencari ke mana-mana, tidak ada," ujarnya.

Karena tidak menemukan penjual jasa yang diinginkan, dengan modal nekat, dia membuat tumpeng sendiri. Berbekal kemampuan memasak seadanya, dia mulai berkutat di dapur, menyiapkan tumpeng plus lauk sambil melihat resep di buku masakan.

Meski dengan bersusah payah, dia akhirnya bisa menyelesaikan nasi tumpeng. Seluruh keluarga dan undangan didaulat untuk menikmati santapan utama dalam syukuran tersebut. Tentu saja, Phoa Tjay Joen deg-degan ketika orang-orang mulai mengambil masakan yang dibuatnya. Dia khawatir kalau ternyata masakannya jauh dari harapan dan rasanya tidak enak.

"Ternyata, kekhawatiran saya tidak terbukti," ucap dia. "Banyak kolega suami saya yang memuji masakan karena rasanya enak. Ada juga di antara mereka yang bertanya di mana tempat memesan tumpeng istimewa itu," sambungnya, lantas tersenyum.

Pengalaman itu pun memicu rasa percaya diri perempuan yang sering disapa Ibu Tirta tersebut untuk membuka usaha di bidang makanan. Tepat pada 1979, dia mulai membuka usaha katering berlabel Ronald Catering. Saat itu, ibu Jimmy Chang, Imelda Chang, dan Ronald Chang tersebut mulai menangani kebutuhan katering rumah tangga dan perusahaan. Dengan berbagai menu andalan dan beragam. Tapi, resep tumpeng tetap menjadi andalan.

Wortel dan Perkedel Jadi Alat Pembelajaran Cucu

Sebagai seorang nenek, Phoa Tjay Joen memiliki hubungan yang amat dekat dengan para cucunya. Terutama, cucu paling besar, Catalina Chang. Phoa Tjay Joen sering menghabiskan waktu dengan bocah berusia empat tahun itu. Berbagai hal mereka lakukan bersama, mulai memasak hingga belajar menyanyi dan berhitung. "Sejak kecil, saya mengajari dia menyanyi, berhitung dan mengenal warna," katanya sambil melirik cucu kesayangannya yang duduk di kursi sebelah.

Proses pembelajaran perempuan berusia 59 tahun itu tergolong unik. Tidak seperti para pendidik atau guru di sekolah pada umumnya yang biasa menggunakan media kertas atau alat hitung untuk belajar, Phoa Tjay Joen memilih bahan masakan untuk mengajari cucunya.

Misalnya, untuk mengenalkan warna, perempuan kelahiran Surabaya tersebut biasa menunjuk bahan masakan sekaligus menyebutkan warnanya. Contohnya, merah pada tomat, oranye pada wortel, hijau pada sayur seperti bayam. "Jadi, cucu saya bisa belajar sambil praktik langsung," ujarnya.

Untuk berhitung, nenek tiga cucu itu tetap melaluinya saat memasak makanan. Contohnya, saat membuat perkedel. Biasanya, Catalina dilibatkan oleh ibu tiga anak itu untuk membuat makanan berbahan dasar kentang tersebut. Catalina pun diajari berhitung. "Kalau perkedelnya sudah jadi, saya dan cucu mulai menghitung bersama-sama," ucapnya.

Tidak lupa, perempuan yang sering disapa Ibu Tirta itu memberikan simbol melalui jari tangan untuk hitungan. Dengan demikian, cucunya tidak sekadar paham dan hafal hitungan yang dihasilkan. Tapi, dia juga mengerti simbol hitungan jari tangan. Hal tersebut dibuktikan saat Catalina ditanya angka empat, dengan cekatan dia mengacungkan empat jari tangannya ke atas dan melipat satu ibu jarinya. "Seperti itulah dia kalau ditanya, selalu menjawab dengan benar," pujinya untuk Catalina.

Karena memiliki manfaat yang besar untuk belajar, Phoa Tjay Joen tidak pernah melarang cucunya terlibat dalam proses memasak. Justru, Phoa Tjay Joen sangat terbuka dan menerima dengan senang hati ketika cucunya menemani memasak. "Sering sekali cucu saya dudukkan di atas meja dengan bahan masakan biar mereka berkreasi sendiri," ujarnya.

Phoa Tjay Joen juga mengajari cucunya bernyanyi. Aktivitas menyenangkan itu dilakukan ketika sedang mempersiapkan pesanan masakan. Biasanya, kegiatan bernyanyi tersebut dilakukan saat mereka sedang melipat kardus untuk tempat masakan. Ketika sedang sibuk melipat itulah, biasanya wanita kelahiran Surabaya tersebut mendendangkan lagu anak-anak untuk cucunya. "Cucu saya ikut bernyanyi bersama. Rasanya senang sekali bisa memasak sambil mengajari cucu hal-hal bermanfaat," katanya. (may/ayi)

---

Ayam Bumbu Rujak Merah

Bahan:
- 1 ekor ayam kampung

Bumbu:
- Kemiri 5 biji
- Bawang putih 1 brongkol
- Kelapa tua untuk santan setengah buah
- Garam 1 sdt
- Gula 2 sdm
- Cabai merah besar 1 ons
- Minyak goreng untuk menumis

Cara Membuat:
- Ayam dibersihkan, lalu dibakar hingga matang dan sisihkan.
- Cabai besar merah dibuang bijinya lalu direbus hingga lunak.
- Setelah lunak, haluskan cabai dengan bumbubumbu lain, yakni bawang putih, kemiri, garam, dan gula.
- Setelah semua bumbu halus, tumis dengan minyak goreng hingga berbau harum.
- Tambahkan santan, masak terus hingga mendidih.
- Terakhir, masukkan ayam sambil diaduk terus hingga bumbu meresap dan ayam siap disantap.

---

Urap Urap Nikmat


Bahan:
- Seperempat kg tauge
- 1 ons alur
- Seperempat kg kacang panjang

Bumbu:
- Setengah buah kelapa diparut
- Bawang putih 5 siung
- Cabai besar merah 2 buah
- Cabai rawit 2 buah
- Kencur 2 cm
- Daun jeruk 3 lembar
- Gula secukupnya
- Garam secukupnya
- Terasi secukupnya

Cara Membuat:
- Semua bahan sayuran direbus. Bumbu dihaluskan kemudian tambahkan kelapa yang sudah diparut.
- Setelah bumbu tercampur rata dengan kelapa, kemudian dikukus hingga tanak supaya bumbu bisa bertahan lama.

---

Sambal Goreng Tempe Kentang Kacang Kress

Bahan:
- Tempe setengah kg
- Kentang seperempat kg

Bumbu:
- Cabai merah besar 2 buah
- Asam jawa masak setengah ons
- Bawang putih 1 brongkol
- Bawang merah 10 siung
- Gula putih 1 ons

Cara Membuat:
- Tempe dan kentang diiris tipis. Lalu, digoreng. Kacang dibersihkan, dibuang kulitnya, dan digoreng.
- Bawang putih, bawang merah, dan cabai diiris.
- Kemudian, bumbu yang sudah halus tersebut ditumis dengan sedikit minyak hingga layu.
- Setelah itu, tambahkan air asam jawa yang berasal dari campuran asam jawa masak dan air dua gelas.
- Masukkan semua bahan campur garam dan gula aduk terus hingga rata.

Sumber: JAWA POS
Mampir dan klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Laksa Pengantin dan Bubur Ase


JAKARTA | Meski sudah lama menetap di Jakarta, barangkali masih banyak orang yang belum mengenal makanan tradisional Betawi. Seperti makanan tradisional pada umumnya, makanan asli Jakarta ini juga sudah tergusur modernisasi.

Dulu, sekitar tahun 1970 dan 1980, mereka yang tinggal di Jakarta masih mudah menemukan makanan tradisional, seperti laksa pengantin, kerak telur, bubur ase, dan selendang mayang. Makanan tradisional itu banyak dijual di pasar, pedagang keliling, atau rumah makan.

Sekarang, makanan khas Betawi itu hanya bisa ditemui bila ada kegiatan khusus semacam Pekan Raya Jakarta atau bila ada acara pernikahan menggunakan adat Betawi.

Bagi Anda yang ingin tahu seperti apa kuliner Betawi, tidak ada salahnya mampir ke arena Gambir Expo yang dulu bernama Pasar Gambir di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Di situ ada kedai khusus yang hanya menjual berbagai makanan dan minuman khas Betawi.

Menjelang malam hari, kedai itu dipenuhi pengunjung. Titin (50), penjual bubur ase dan laksa pengantin, sibuk melayani pesanan pengunjung. ”Kebanyakan mereka memesan bubur ase dan laksa pengantin,” kata Titin.

Terdorong penasaran, kami pun ikut memesan bubur ase dan laksa pengantin. Bubur ase ternyata asinan yang dicampur dengan bubur. Sebelum dihidangkan, bubur disiram dengan kuah semur kentang dan daging.

Sayuran yang digunakan dalam asinan terdiri dari taoge mentah, mentimun, ikan teri asin, kacang kedelai, lobak putih, dan kucai. Rasa bubur ase ini manis, asam, dan asin.

Menu lain yang dicari pembeli adalah laksa pengantin. Disebut laksa pengantin karena masakan ini merupakan bagian dari rangkaian upacara pernikahan adat Betawi. Tiga hari setelah menikah, mempelai perempuan diboyong ke rumah pengantin laki-laki yang lalu mengadakan pesta dengan hidangan laksa.

Laksa pengantin isinya lontong, taoge, kemangi, kentang, telur, sawi asin, mentimun, bihun, dan ayam rebus yang diiris kecil-kecil. Kuahnya adalah kuah kari. Sebelum disajikan, biasanya ditaburi bawang merah goreng dan kerupuk.

Kami juga mencoba minuman khas Betawi, yakni bir pletok. Meski namanya bir, minuman ini tidak beralkohol. Bir pletok dibuat dari 12 bahan rempah, antara lain jahe merah, jahe putih, cengkeh, pala, cabai jawa (cabai yang bentuknya seperti daun cemara), kayu secang, dan kapulaga.

Bir ini warnanya merah karena kayu secang. Menurut Nanik Arsyad (43), yang mewarisi resep bir pletok ini dari ayahnya, ketika direbus kapulaganya merekah dan berbunyi ”pletok”. Setelah semua bahan direbus, lalu disaring agar jernih.

Sehari-hari, bila tidak ada acara PRJ, Nanik hanya menerima pesanan bir pletok di rumahnya di Jatibening, Jakarta Timur. Selain memproduksi bir pletok, Nanik juga menerima pesanan berbagai makanan tradisional Betawi. (IND)

Sumber: KOMPAS
Foto:
detikfoto
Klik dan mampir ke http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

26.6.09

Pempek dan Pindang Patin Wong Kito Galo!


JAKARTA |Ikan patin racikan wong kito galo ini dagingnya tebal, lembut dan jauh dari bau amis dan tanah. Kuahnya kuning kemerahan mengumbar aroma wangi daun kemangi hmm... paduan asam pedes yang segar. Sedangkan pempeknya lembut dengan rasa ikan plus cocolan cuko huah huah... mantab pedesnya!

Pempek dan pindang patin memang sudah menjadi maskot makanan Palembang. Kini keduanya sudah menyatu dengan lidah banyak orang sehingga tak sedikit yang memfavoritkan kedua hidangan ini. Begitu pula dengan saya yang sudah lama tidak merasakan kuah asam segar si pindang patin. Biasanya jika ingin menikmati pindang patin saya langsung meluncur ke RM Putra Sriwijaya yang ada di Jl. Proklamasi.

Suatu malam, sepulang kerja saat menyusuri jalan Tanjung Duren tiba-tiba mata saya menangkap sebuah banner besar bertuliskan Pindang Patin, Masakan Palembang. Kalau kata pepatah kebetulan seperti ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Ditilik dari bannernya yang masih gress, rasa-rasanya rumah makan 'Pempek Nelly 10 Ulu' Tanjung Duren ini masih terbilang baru.

Letaknya berada di sebuah ruko sederhana, tepat di seberang RM Sederhana Tanjung Duren yang menuju arah Grogol. Di bagian depan terdapat beberapa buah etalase yang berisi bermacam jenis pempek yaitu lenjer kecil, lenjer besar, adaan, keriting, kapal selem, pempek telor, dan pempek panggang. Cukup komplet bukan? Di etalase lainnya dipajang aneka camilan khas Palembang, seperti kerupuk palembang, lempok durian, sampai kecap buatan Palembang.

Tak lama saya sudah duduk manis di salah satu meja yang tersedia. Tempat ini sederhana saja, jejeran meja merapat di kedua dinding dengan bangku plastik. Sedangkan di bagian dalam, seperti rumah makan pempek lainnya ada etalase untuk meracik berbagai minuman dari jus, es kacang merah, dan es campur.

Belum lagi melihat buku menu, pilihan saya sudah jatuh pada seporsi pindang patin. Ikan seluang yang ada di deretan pilihan menu juga segera menarik perhatian saya. Ikan air tawar yang biasa ditemui di sungai-sungai ini mirip dengan ikan teri, jika digoreng garing bersama cocolan sambal dan nasi putih saja... hmm sudah terbayang kelezatnya! Untuk meredam rasa pedas nanti seporsi es campur tak lupa ikut dipesan.

Sambil menunggu hidangan saya datang, otak-otak yang ada di atas meja menjadi sasaran pertama. Hmm... otak-otaknya lembut sedikit kenyal dengan rasa ikan yang sangat kuat. Seperti rumah makan Palembang lainnya, tak ketinggalan aneka kerupuk palembang dan srikaya turut memenuhi meja disamping cuko dan sambal.

Tak lama kemudian sepiring nasi disusul dengan semangkok pindang patin mengepul panas tersaji diatas meja. Si ikan saluang menyusul kemudian bersama dengan sambal terasi dalam wadah mungil. Saya mendapatkan ikan patin bagian ekor yang merupakan bagian favorit saya. Ikannya cukup besar jika tidak begitu lapar bisa dishare untuk dua orang.

Kuahnya yang kuning kemerahan, nyaris keruh dengan irisan tomat merah, cabai hijau dan kemangi makin membuatnya menggiurkan dan menebarkan aroma harum. Meski sayang saya tak menemukan belimbing wuluh didalamnya. Bau tanah si ikan patin tak lagi terlacak membuat saya puas saat menyantapnya. Daging ikannya tebal segar dan kuahnya yang asam segar puedess. Huah huah... benar-benar membuat saya yang penggila pedas ini makin lahap menikmatinya.

Sesekali saya pun meredamnya dengan menyedot es campur yang mulai mencair. Es campur ini disajikan dengan serutan es bertopping sirup merah dan susu cokelat. Isinya cukup komplet mulai dari kolang-kaling, cincau hitam yang diiris kecil-kecil, kacang merah yang empuk, cendol, dan tape kuning.

Ikan seluang yang khas Palembang ini pun tak kalah enak. Ikan kecil-kecil ini digoreng garing hingga kecokelatan, rasanya benar-benar renyah garing seperti kerupuk. Rasanya gurih-gurih asin... saat dicocol dengan sambal dadak terasi yang pedas wah dijamin tak bisa berhenti mengunyahnya.

Rupanya pindang ikan patin dan ikan seluang belum membuat lengkap makan malam ala wong kito galo ini. Pempek yang dimakan meja tetangga rupanya berhasil membuat penasaran. Akhirnya saya kembali memesan sebuah pempek lenjer, adaan, dan keriting. Ternyata saya pun tak menyesal memesannya.

Pempeknya tetap lembut meski digoreng cukup garing kecokelatan dengan rasa ikan yang cukup nendang. Cukonya agak kental, jika menginginkan rasa pedas harus ditambahkan terlebih dahulu dengan sambal yang ada di atas meja. Tapi ingat, buat yang tak suka rasa pedas jangan menambahkannya terlalu banyak, karena sedikit saja rasa pedasnya dijamin sudah menyengat lidah!

Untuk seporsi pindang ikan patin dan ikan seluang masing-masing cukup dihargai Rp 15.000,00 saja. Pempek kecil Rp 3.500,00 per buah dan Rp 7.000,00 untuk es campur. Harga yang saya bayarkan sama puasnya dengan hidangan yang saya nikmati. Mengingat banyak hidangan wong kito galo lainnya yang belum sempat saya nikmati, seperti tekwan, model, pempek panggang, dan pepes patin tempoyak. Rasanya lain kali saya akan sering-sering mampir kembali! (dev/Odi)

Jl. Tanjung Duren Barat I
(Seberang Resto Sederhana)
Jakarta Barat
Telp: 021-56943956
(Menerima Pesanan)

Jl. Garuda No.59 Kemayoran
Jakarta
Telp: 021-4240985

Jl. Letjen Suprapto No.11
(depan Hotel Grand Cempaka)
Telp: 021-4268871

Jl. Raya Bekasi Km 32 Cakung
Telp: 021-68777810

Sumber: detikfood.com
Silakan mampir juga ke http://kecap-bango.blogspot.com dan www.bangomania.org

Sphere: Related Content

25.6.09

Dikepung Kelezatan Seafood Segar


JAKARTA | Kalau mengaku penggila seafood, sebaiknya sempatkan mampir ke tempat ini. Bukan hanya sajian seafood yang serba segar dan enak menanti tetapi juga suasana asri. Kebun yang sejuk, udara yang semilir dan iringan petikan gitar bersama penyanyi benar-benar jadi penyejuk hati!

Di tengah antrean kemacetan tiba-tiba warna oranye menyala dengan tulisan biru 'Telaga Seafood' sangat menggoda. Padahal sudah berpuluh kali saya melintasi resto seafood ini. Akhirnya sayapun memutuskan untuk melepaskan diri dari himpitan kemacetan di resto ini.

Gemericik air mancur dan suasana resto yang sejuk langsung menyergap. Ada dua area santap, ber AC dan non AC. Interior bergaya minimalis dengan warna alami cokelat, oranye memberi suasana hangat yang akrab. Lampion kertas warna-warni yang digantung di langit-langit memberi sentuhan meriah.

Di area belakang terdapat deretan saung lesehan menghadap ke kebun yang dilengkapi dengan air terjun dan ayunan. Hmm... suasana macet dan berisik di jalan raya benar-benar senyap ditelan suara air!

Dari daftar menu sayapun memilih ikan baronang bakar sebagai sajian primadona. Diiringi cumi goreng tepung, udang peci rebus dan tumis kangkung serta sup gurami. Memilih menu dari lembaran menu cukup mudah, karena menua andalan diberi tanda 'jempol'.

Sup gurami yang mengepul panas dalam hotpot saya nikmati sebagai pembuka. Daging ikannya lembut, tak berbau tanah dengan selingan renyah asam manis potongan nenas di sela-sela irisan cabai hijau dan merah. Kuahnya hanya menebar lamat-lamat aroma bawang putih dan nanas. Segar, ringan pas sebagai pembangkit selera.

Ikan baranong bakar seberat 600 gram tersaji dalam piring oval. Khusus untuk menyantap ikan bakar disediakan condiment; iirsan bawang merah, irisan cabai rawit, saus seafood dan sebotol kecap manis bermerk HT (kecap Tangerang).

Daging ikannya masih lekat terkait pada tulang, lembut kenyal dan gurih. Cocolan pada saus seafood dan sedikit kecap memberi efek lezat. Apalagi saat bertemu dengan sambal mangga dan sambal dadak. Alamak..! Sedap nian!

Perlahan-lahan ketegangan akibat macet menjadi sirna. Tiupan lembut angin malam yang sejuk makin terasa nyaman dengan iringan petikan gitar dan suara grup penyanyi yang mendendangkan lagu-lagu Latin. Acara menyantap seafoodpun makin asyik saja!

Cumi goreng tepung dalam porsi royal juga tak engecewakan. Daging cuminya empuk dengan lapisan adonan tepung yang krenyes-krenyes renyah gurih. Cumi ini makin enak dimakan dengan cocolan sambal seafood yang asam-asam pedas.

Udang peci rebus pun sama dahsyatnya. Udang berukuran sedang berwarna semu oranye cantik. Kepalanya masih lekat tanda bahwa udang sangat segar, saat dikupas dan dikunyah terasa benar udang ini direbus dengan air panas bersuhu tepat. Akibatnya rasanya tetap kenyal, gurih dengan aksen manis khas udang.

Yang kurang memuaskan justru si tumis kangkung terasi yang kurang lunak, terasa liat saat dikunyah. Bisa jadi karena api yang kurang besar atau jenis kangkung yang salah. Sayang sekali porsi yang cukup royal tak mampu saya habiskan.

Perut sudah keburu kenyang padahal di gerai Es Sekoteng pak Oyen Bandung yang ada di sudut resto berbagai es campur sungguh sangat menggoda. Dari es sekoteng, es doger, es durian, es teler hingga es buah. Satu cup es krim mocca bermerk Star dari Australia akhirnya menjadi pembilas yang cantik malam itu.

Bukan hanya perut kenyang tetapi suasana jalan yang sudah lancar membawa perasaan ringan dan nyaman saat pulang. Ternyata, kemacetan tak harus berakhir dengan umpatan dan mati gaya kan? Apalagi harga makanan di resto yang memiliki cabang di Tangerang dan Cibubur ini juga tak terlalu mahal! (dev/Odi)

Telaga Seafood
Jl. Raya Serpong, Kav. Komersial No.6
Serpong, Tangerang
Telpon: 021-5384809

Kota Modern
Jl. Pulau Putri Raya Kav.1 No.1
Tangerang

Jl Akses Baru Buperta No.3
Cibubur Jakarta Timur

Harga makanan: muali Rp. 9.000,00 – Rp. 67.500,00 per porsi
Jam Buka : 11.00 -22.00 WIB

Sumber:
detikfood.com
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

24.6.09

Paduan Bakso-Tahu Kediri yang Menggoda


SURABAYA | Jika dibandingkan dengan makanan lain, bakso boleh dikata tak ada matinya. Meski sempat mencuat isu penggunaan zat-zat berbahaya atau pemakaian daging tikus dalam makanan tersebut, toh penggemar makanan ini seolah tak surut.

Di Surabaya ini terdapat banyak sekali penjual bakso. Dari kelas kaki lima hingga restoran mewah. Meski begitu tak selalu yang kaki lima kalah nikmat dibanding yang dimasak di restoran. Terpenting, bagaimana mereka memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggannya.

Salah satu yang jadi jujugan penggemar bakso ini sekarang, Bakso Heboh yang berlokasi di kawasan Jl Indragiri. Bukan hanya bakso, di sini konsumen juga akan mendapat pelayanan yang nyaman.

Sejak buka sebulan lalu, warung ini memang langsung mendapat banyak perhatian dari pecinta bakso. Salah satu daya tariknya harganya yang masih Rp 5 ribu per porsi. Seporsi itupun masih bisa memilih antara daging bakso yang berjumlah 10 (pentol kasar dan halus), atau dengan tambahan gorengan, tahu dan siomay.

Keunikan lainnya, dalam bakso ini juga terdapat tahu yang lain dari biasanya. “Kalau di tempat lain mungkin tahu yang di dalamnya terdapat daging bakso. Kalau di sini dagingnya di luar, sedangkan tahunya di dalam,” ujar Indriyani, pemilik usaha ini.

Dan yang digunakan bukan sembarang tahu, melainkan tahu Kediri hingga membuatnya berbeda.

Jeri, salah seorang penggemar bakso yang kerap berburu makanan jenis bakso ini mengaku langsung “jatuh cinta” pada rasa dan harganya. “Biasanya kalau makan bakso yang tempatnya nyaman seperti ini harganya bisa sangat mahal, tetapi di sini malah lebih murah dari tempat di pinggir jalan sekalipun,” ujar pria yang sehari-harinya bekerja di kawasan Jl Diponegoro tersebut.

Selain itu dari faktor rasa, daging bakso terasa sekali aslinya, kemudian kuah juga tidak berminyak, sehingga tidak ada yang ditakutkan lagi dengan adanya bahaya kolesterol.

Setelah puas makan bakso, sebagai pelepas dahaga tersedia bermacam es jus yang sangat segar. Selain itu, terdapat Es Buah Tropis yang merupakan campuran dari beberapa buah.

Berawal Dari Hobi
Hobi makan bakso menjadi awal dari usaha Bakso Hebooh yang sekarang dijalankan oleh Indriyani. “Saya kira semua orang, baik tua muda, kaya atau miskin pasti menyukai makanan ini, termasuk saya yang sejak kecil sudah sangat senang makan bakso,” ujarnya.

Tidak tanggung-tanggung, penggila bakso ini bahkan kerap mencari bakso di manapun saat mendapat kabar dari teman atau saudaranya tentang keberadaan bakso enak. “Baik di Surabaya atau di luar kota, kalau mendengar ada bakso yang enak, pasti saya usahakan untuk mencoba,” kata perempuan yang tinggal di kawasan Indragiri ini.

Meski bukan yang pertama dalam berjualan bakso, namun ibu dari 3 orang anak ini memang sudah punya cukup pengalaman dalam mengelola usaha restoran. Sebelumnya mengkhususkan diri pada bakso, ia menjual aneka makanan lain, tetapi dengan hasil yang standar saja. Baru saat dimasukkan menu bakso, ternyata banyak dari pelanggan yang senang dengan baksonya dan memberi ide agar lebih fokus untuk berjualan bakso saja. ”Saya langsung beralih ke bakso ketika banyak dari pelanggan saya yang senang dengan bakso racikan saya,” ujar Indriyani.

Untuk tetap memberi rasa yang enak pada baksonya, sampai sekarang ini semua racikan bakso masih dibuatnya sendiri. Tidak hanya itu, mulai dari mencari bahan mentah untuk baksonya, ia pun masih melakukannya sendiri. “Tiap hari saya yang belanja ke pasar untuk mencari bahan yang akan dibuat menjadi bakso” katanya.

Alhasil, dengan racikan dan kemasan yang unik, sekarang memang sudah terlihat cukup banyak pelanggan yang mendatangi baksonya. (dwi)

Sumber: SURABAYA POST
Silakan klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Njajan Malam, Sego Boranan Khas Lamongan


LAMONGAN | SELAIN soto ayam dan tahu campur, makanan Lamongan yang terkenal adalah sego boranan. Penyajiannya mirip nasi sambal di Surabaya. Namun, wadah dan bahan sambalnya yang membuat makanan ini khas dan sulit ditemukan di tempat lain.

Memasuki gerbang lengkung Kota Lamongan, tertulis slogan Lamongan Kota Soto. Soto ayam merupakan masakan khas daerah yang terletak di pantai utara Jawa Timur ini. Namun, jika menjelajahi kota tersebut, ragam makanan lainnya bakal Anda temukan.

Antara lain tahu campur, sego boranan, tahu tek, wingko babad, dan jumbreg. Jika sego boranan mirip nasi sambal, jumbreg lebih mirip talam. Tahu campur dan tahu tek sering dijumpai di berbagai kota, sama halnya dengan wingko. Sedang, sego boranan dan jumbreg hanya dapat ditemui di Lamongan.

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, apa itu sego boranan? Sego boranan seperti nasi sambal, nasi putih atau nasi jagung disajikan dengan ragam lauk pauk dan sambal di atas pincuk daun pisang dan kertas.

Jangan harap bisa menemui sego boranan di restoran atau warung makan. Sebab, masakan ini hanya dijajakan keliling kampung oleh ibu-ibu. Mereka berkeliling ke penjuru kota, termasuk alun-alun kota dan malam hari di sepanjang Jl Basuki Rahmat, dari alun-alun belok kanan lalu lurus. Belasan ibu-ibu duduk berjajar berjualan sego boranan.

Asyiknya, pembeli bisa lesehan atau jongkok sembari menikmati lezatnya sego boranan ini. Nama sego boranan diambil dari wadah tempat menaruh nasi, boran, keranjang terbuat dari anyaman bambu berbentuk lingkaran di bagian atas dan persegi di bagian bawah. Keempat sudutnya disangga bambu supaya tak menyentuh tanah langsung. Lauk ditempatkan di ember besar dan sambal di panci. Semua disunggi di punggung ibu-ibu dengan jarik gendong.

Sebagian besar mereka masih bersaudara. Seperti Katiani, 28, yang menjajakan sego boranan berdampingan dengan bibinya, Istiah, 42. Katiani baru tiga tahun ini berjualan, berbeda dengan Istiah yang sudah mencapai 20 tahun lebih.

“Umumnya kami berjualan secara turun-temurun,” kata Katiani yang mulai nongkrong di Jl Basuki Rahmat sejak pukul 17.00 WIB. Setiap hari dia berada di sana sampai semua masakan yang dijajakan habis.

Katiani dan Istiah mematok harga seporsi sego boranan Rp 5.000. Meski di beberapa tempat ada juga yang dijual dengan harga Rp 3.000, tergantung lauk yang diambil.

Ragam Lauknya, Pedas Sambalnya
Sego boranan dikenal karena ragam lauk pauk dan sambalnya. Ingin tahu lauknya apa saja? Ada ayam goreng, udang, tempe, tahu, telur asin, telur ceplok, telur dadar digoreng dengan tepung, sate uretan (bakal calon telur), jerohan, ikan bandeng, ikan kuthuk, pletuk, ikan sili, empuk, rempeyek kacang atau teri, dan urapan sayur.

Banyak sekali, jadi jangan bingung memilihnya. Tiga di antaranya menjadi lauk khas sego boranan yang tak ditemui pada menu lainnya, yaitu empuk, pletuk, dan ikan sili. “Empuk ini dibuat dari tepung terigu yang dibumbui,” kata Katiani.

Pletuk terbuat dari nasi yang dikeringkan atau kacang, lalu dibumbui dan digoreng. Namanya diambil dari bunyi ketika makanan ini dikunyah, ‘pletuk, pletuk’. Nah, lauk ikan sili ini yang tak bisa ditemui setiap saat, karena termasuk ikan musiman. Ikan sili dulu lebih dikenal sebagai ikan hias, harganya lebih mahal dibanding daging ayam. Bentuk ikan ini panjang seperti belut, tidak kentara mana bagian kepala atau ekornya. Durinya pun hanya ada di bagian tengah.

Nasi dan lauk ini tidak lengkap rasanya tanpa sambal kuah nan pedas. Bahan sambal boran terdiri dari lengkuas, jahe, terasi, jeruk purut, cabe rawit yang direbus, beras mentah yang direndam sebagai pengental, parutan kelapa, bawang merah, bawang putih, dan merica. “Supaya rasanya mantap, ditambahkan gula dan garam. Lalu, semua bahan diblender jadi satu,” terang Katiani. Sambal kuah ini diguyurkan di atas nasi dan lauk.

Sementara urapan sayur dimakan dengan sambal urap berbahan bawang merah, bawang putih, garam, cabe merah, penyedap rasa, dan parutan kelapa. Cara memasaknya unik, bukannya dikukus atau dibiarkan mentah, tetapi dipanaskan dengan kreweng, semacam tanah liat bentuk persegi dan dibakar sehingga menghasilkan asap. Aromanya jadi sedap, satu porsi sego boranan jadi tidak cukup. Ingin tambah lagi sampai benar-benar kenyang. (ida)

Sumber: SURYA
Ayo mampir juga ke http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

22.6.09

Asem Sueger, Gurami Pecak Bening


Olahan ikan gurami gaya Sunda ini sangat memikat. Ikannya dibelah dan dibakar hingga wangi dan kering. Kuahnya bening beraroma bawang dan kencur yang wangi menusuk hidung. Memaran cabai hijau dan merah memberi gigitan pedas yang enak. Jangan ditanya jika sudah disuap dengan nasi timbel pulen yang hangat! Dahsyat!

Siang yang terik di tengah kemacetan, saya tiba-tiba ingat pecak. Istilah pecak ini merupakan istilah sajian ikan yang disiram bumbu. Bumbunya bisa santan atau tanpa santan, bisa juga sambal uleg biasa. Namun, pecak gaya Sunda yang ada di rumah makan Pondok Jagung ini sangat berbeda.

Rumah makan ini sudah lama ada di jalur jalan raya Serpong, tepatnya sekarang ada di depan WTC Serpong. Bagian luarnya memang terlihat sederhana, sebagai toko barang antik yang nampak kusam. Namun, di bagian belakang, justru merupakan halaman luas yang teduh. Ada pohon beringin yang rindang, sebuah andong dan sampan pun ada di bawahnya. Bagian belakang toko inilah yang sejak bertahun-tahun jadi rumah makan.

Memasuki halaman luas dan teduh, serasa nyaman, bagai kembali ke rumah di kampung. Padahal beberapa meter di depannya ada hiruk-pikuk lalu lintas sangat padat dan berisik. Saung-saung untuk lesehan ada di bagian depan. Di bagian dalam banyak terdapat kursi kayu kuno dan meja marmer yang juga merupakan bagian dari barang antik yang dijual. Gebyok berukir dan berbagai ornamen kusen pintu dan jendela kuno menghiasi berbagai sudut ruangan.

Dari dulu andalan rumah makan ini adalah gurami. Namun di daftar menu ada banyak pilihan lain seperti paket nasi timbel dengan berbagai lauk (ayam goreng, empal, sayur asem, tahu dan tempe). Ikan air tawar ; ikan gurami, ikan mas, lele dan patin ditawarkan dalam berbagai olahan. Ada bumbu pecak bening, santan, coan, acar kuning, goreng kecap, goreng kering, bakar, dan asam manis.

Karena kangen berat dengan pecak gurami, sayapun memilih pecak bening gurami, berikut nasi goreng oncom dan sambal dadak. Sajian rumah makan ini memang bergaya Sunda, sehingga selain ikan air tawar juga ada ikan air laut yang bisa dibakar atau digoreng juga aneka nasi. Tak ketinggalan karedok dan tumis kangkung plus gorengan oncom.

Lebih dari 15 menit saya harus menunggu ikan gurame dibakar karena memang perlu waktu agak lama. Sementara aroma wangi berhembus dari sudut kanan bangunan yang berfungsi sebagai tempat membakar ikan. Hmm..perutpun rasanya makin tergelitik lapar!

Ikan gurami bakar seberat 600 gram ditaruh di piring kaca segi empat. Kuah bening semu kemerahan menggenangi kelilinganya. Sementara di permukaan badan ikan tertutup serpihan cabai hijau dan merah plus bawang merah dan putih yang diuleg kasar. Aroma wangi bawang dan kencurpun tercium tajam menusuk hidung. Tampilannya sekilas mirip pecak gurami pak haji Muhayar di bilangan Buncit.

Kunyah pertama, langsung terasa krenyes-krenyes, rasa renyah kulit gurami yang terbakar diselingan serpihan gurih dagingnya. Tak ada aroma tanah yang tercium. Remahan cabainya terasa segar menggigit, demikian juga kuahnya. Kuahnya menebar aroma wangi jeruk nipis dan pedas-pedas cabai yang enak. Aroma tajam kencur menjadi ciri khas pecak ini. Rasanya asam segar pedas, pas dimakan saat udara siang yang menyengat.

Nasi goreng oncom yang saya pesan tampilannya tak berbeda dengan nasi goreng biasa. Komplet dengan kerupuk dan iris timun. Krenyes lembut serpihan oncom terasa disela-sela butiran nasi. Hanya sayang aroma kencurnya kurang nonjok sehingga terkesan seperti nasi goreng biasa. Ah, mungkin lain kali memang pecak gurami harus saya makan dengn nasi timbel saja.

Pelengkap yang sederhana tetapi justru terasa hebat adalah sambal dadaknya. Meskipun disajikan di pring kecil, tak di atas cobek tetapi tak berkurang lezatnya. Warnanya kemerahan dengan genangan air. Menandakan sambal ini memakai tomat segar yang digerus bersama cabai. Rasanya tak hanya pedas menggigit tetapi ada nuansa asam dan sedikit manis, khas sambal dadak Sunda.

Riwayat sambal ini tak lama karena setelah dicocok dengan ikan gurami bakat, rasanya justru main dahsyat dan enak. Rasa kencur yang melumuri ikan gurami justru sangat serasi bersanding dengan sambal dadak yang nonjok ini. Wah, kali ini kembali saya tejerat keunikan kuliner Sunda! (dev/Odi)

Rumah Makan Pondok Jagung
Jl. Raya Serpong 74
Tangerang, Banten
Telepon : 021-5374566
Jam buka : 11.00 – 21.00
Harga Makanan: Paket timbel komplet dengan pilihan lauk: Rp 19.500,00/paket, ikan gurami Rp 32.500,00 per 1/2 kg, lauk lain antara Rp 4.000,00 – Rp 15.000,00


Sumber: detikfood.com
Klik juga http://kecap.bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

19.6.09

Rujakan ala Mahasiswa Amerika


Dialog budaya tak selalu dilakukan dengan cara diskusi. Tapi, bisa juga dengan cara praktik langsung. Itulah yang dilakukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Club STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Perbanas saat mengundang mahasiswa Amerika di kampusnya kemarin.

Mereka menyiapkan baju kebaya dan bahan-bahan untuk membuat rujak. Para mahasiswa Amerika itu diminta memakai kebaya sendiri kemudian membuat rujak.

Ada tiga mahasiswa yang dipilih adu cepat memakai kebaya. Lucy Ellenwood, Jodi Whited, dan Brian Hamilton, ketiganya dari Oklahoma University. Mereka tampak bingung cara memakai busana itu, terutama dalam memakai jarik.

Jodi Whited memutar-mutar kain itu di tubuhnya, tapi tidak bisa juga. Sampai waktu yang ditentukan habis pakaian tersebut belum terpasang dengan baik.

Setelah itu mereka diminta membuat rujak. Semua bahan rujak sudah disiapkan di atas meja, mereka tinggal mengolah menjadi rujak. Empat mahasiswa ditunjuk adu cepat membuat makanan khas Surabaya itu. Ada yang nguleg bumbunya, ada yang mengiris buah. Akhirnya jadi juga. Para mahasiswa kemudian berkumpul untuk mencicipi rujak ala Amerika itu. ''Lumayan enak," celetuk salah satu mahasiswa.

Acara bertema Cross Cultural Exchange (CCE) itu berlangsung dua hari, Kamis dan Jumat. Ada lima mahasiswa Amerika yang datang. Yakni, dari Oklahoma University dan Mississippi College serta empat guru dari Amerika yang mengajar di Easy English Course (EEC).

Pada hari pertama diisi perkenalan antara mahasiswa Amerika dan mahasiswa STIE Perbanas. Setelah itu mereka dibagi berkelompok untuk berdiskusi tentang budaya, aktifitas kampus, bahasa, dan lain-lain.

Jodi Whited mengaku senang bisa datang ke Indonesia. Dia bisa banyak belajar tentang budaya lokal dan mengenalkan budayanya pada mahasiswa Indonesia. ''Orang Indonesia sangat menyenangkan, suka menyapa," kata perempuan berambut pirang itu.

Jodi baru kali pertama datang ke Indonesia. Dia cukup senang diajak memakai kebaya dan membuat rujak. "Saya sendiri yang membuat, jadi bisa tahu caranya," katanya.

Tapi, yang paling menarik selama di Indonesia, kata Jodi, adalah naik becak. ''Di Amerika tidak ada becak, jadi saya senang bisa naik," katanya. Dia juga kesengsem dengan masakan Indonesia. ''Saya suka soto dan meatball (bakso, Red.)," katanya.

Ketua English Club STIE Perbanas Yohanes Adi mengatakan, acara tersebut sudah kali kedua dilakukan. Menurut dia, mahasiswa asing itu cukup senang dan banyak pengalaman yang mereka dapatkan. Pihaknya juga bisa mendapatkan pengalaman dari mereka. ''Kita saling tukar budaya lah," katanya. (lum/cfu)

Sumber: JAWAPOS
klik juga: http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Sop Daging Betawi Punye


Buat yang sedang meriang, badan kurang segar, sup yang satu ini bisa jadi obat mujarab. Inilah sop daging sejujurnya olahan dapur Betawi. Kuahnya bening kecokelatan, dengan potongan daging yang kekar namum empuk lembut. Jangan ditanya lagi rasanya. Gurih, segar dan nikmat kagak ade duenye!

Rumah makan Berkah ini sudah kondang sejak lama. Sajian andalannya ya cuman sop daging. Peringatan pertama, jangan terlalu siang kalau mau mampir ke warung makan yang ada di dekat gedung Prabu 1 Jl.TB Simatupang ini. Pasalnya Anda bakal harus menunggu di luar untuk dapat kursi atau yang paling apes, sop sudah habis!

Karena tak mau mengalami kekecewaan, maka sayapun menyiapkan waktu. Jam 12 lewat sedikit sudah ada di rumah makan yang sudah ada sejak tahun 1980 an ini. Ternyata hampir semua meja sudah dipenuhi pengunjung pada jam makan siang itu.

Menu andalan rumah makn ini dari dulu adalah sop daging sapi. Hanya tersedia dua ukuran, mangkuk kecil dan mangkuk besar. Buat yang tidak suka daging sapi, ada ayam goreng telur dan pepes ikan mas.

Di ujung bagian tengah terdapat lemari kaca tempat meracik soto. Uap gurih aroma daging segera tercium. Usaha saya untuk meminta potongan daging dengan sedikit tulang ternyata gagal. "Sudah habis, tinggal daging aja"’ demikian komentar sang pelayan.

Pesanan sup dalam porsi kecil disajikan dalam mangkuk sup ukuran sedang. Ada sekitar 3-4 potong daging sapi dalam ukuran lumayan besar, sekitar 4x4 cm. Bongkahan daging ini direndam kuah kecokelatan bening dan ditaburi urusan daun bawang dan seledri yang lumayan royal. Aroma kaldu sapinya sangat gurih menusuk hidung!

Kalau melihat besarnya potongan daging tentu jadi ragu. Apa empuk ya daging sebesar itu? Hmm…ternyata daging sangat mudah dipotong dengan sendok dan garpu. Rasanya? Empuk, lembut dan gampang dikunyah. Tekstur dagingnya kemerahan. Mungkin saja daging dimasak dengan panci tekan sehingga tetap kekar tapi empuk! Paling tidak perlu proses memasak yang cukup lama dan teliti menjaga kaldu agar tida keruh.

Hirupan kuahnya teras gurih, jujur, alami selayaknya kaldu daging asli yang sedap. Setelah diaduk dengan sambal rawit dan kucuran air jeruk nipis, barulah terasa agak sangar, sedikit mengigit dan memiu derasnya cucuran keringat!

Untuk menikmati sop daging ini selain dengan nasi, ada lauk-pauk sederhana yang tersedia. Perkedel, tempe goreng dan tahu goreng plus emping melinjo super besar. Tempenya berukuran besar, digoreng kering dengan rasa bawang meresap. Garing dan gurih. Perjedelnya selain besar, padat rasanya juga gurih lembut dengan aroma pala dan merica yang wangi. Semuanya tampil seperti gaya Betawi, polos, seadanya!

Cucuran keringat pun saya redakan dengan es jeruk peras yang asli, asam manis dan segar. Emping yang dikucuri kecap manispun jadi pelengkap sempurna santapan sop daging ini. Sebagai peredam rasa pedas dan lemak sop di mulut, pencuci mulut di warung ini saying dilewatkan. Kue bugis di tempat ini memag kondang. Terbuat dari tepung ketan hitam dengan unti kelapa yang putih serta dibungkus daun pisang. Legit, lentur dan wangi rasanya, pas buat pencuci mulut! Sayapun membawa beberapa bungkus kue bugis ini untuk dibawa pulang!

Harga yang ditaawrkan warung makan ini masih relative murah mengingat porsunya yang lumayan besar. Sop daging mangkuk kecil Rp 25.000,00 dan mangkok besar Rp 30.000,00. Tahu dan tempe Rp 1.500,00 sedangkan untuk perkedel Rp 3.000,00. O ya, kue bugis yang enak dan legit itu hanya Rp. 1.000,00 per bungkus. bukan? Kalau ingin mneyegarkan badan sambil memcicipi kuliner Betawi yang sejujurnya, mampir saja ke warung makan ini! (eka/Odi)

RM. Berkah
Masakan Betawi
Jl. Jeruk Purut No.10 Cilandak Timur
Jakarta Selatan
Samping Gedung Ratu Prabu I, belakang masjid
Telp: 021-7815652


Sumber: detikfood.com
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

18.6.09

Nyang Ini Pecak Gurame Babe Punye!


Pecak gurame racikan Haji Muhayar ini memang patut diacungi jempol. Guramenya digoreng kering lalu diguyur saus yang rasanya asam pedas. Sungguh menggugah selera. Ikannya segar, digoreng garing diluar dan lembut di dalam. Belum lagi sambal dadak yang pedesnya nonjok, makin membuat kalap makan siang a la Betawi kali ini!

Makanan Betawi memang kagak ada matinye! Hal itu kami buktikan di rumah makan yang ada di bilangan Jl. Taman Margasatwa Ragunan. Kebetulan letaknya tak jauh dari kantor, nah jadilah siang itu kami beramai-ramai mengunjungi RM H Muhayar. Jika dari arah Kuningan, posisi RM Betawi ini ada di sebelah kiri jalan, tepat setelah Telkom Ragunan.

Siang itu sudah tampak jejeran mobil-mobil yang diparkir di pinggir jalan nyaris menutup bangunan rumah makan. Layaknya RM Betawi pada umumnya, rumah makan Haji Muhayar ini pun tampil sederhana. Meja-meja dan kursi plastik ditata menempel dinding rumah makan berlantai dua ini.

Saat akan memasuki rumah makan, seorang bapak dengan ramah mempersilahkan kami masuk. Mengingat siang itu situasi rumah makan bisa dibilang ramai, namun kami masih menerima sapaan ramah. Tak lama kemudian seorang pelayan langsung datang dan dengan sigap mencatat pesanan kami.

Yang menjadi andalan rumah makan Betawi ini adalah Pecak Ikan Gurame Goreng dan Ayam Kampung Goreng. Selain itu ada pula ikan mas dan ikan lele yang bisa digoreng, dipecak, dan dibakar. Sebagai pelengkap di atas meja ada mangkok mungil yang berisi sambal terasi, pisang, dan timun.

Satu per satu pecak gurame, ayam goreng, dan sayur asem khas Betawi disajikan di atas meja. Tak lupa lalapan yang terdiri dari dua piring berupa rebusan daun pepaya, kenikir, selada, kemangi dan kacang panjang ikut disajikan. Buat penyuka pedas, hmm... sambal terasi rumah makan ini tentunya tak boleh dilewatkan.

Pecak Gurame disajikan dalam piring oval, ikan guramenya berukuran sedang dengan guyuran kuah pecak. Ukuran yang besar membuatnya bisa dinikmati 2-3 orang. Sedangkan yang dimaksud pecak disini adalah ulekan cabai merah, bawang merah, dan jeruk nipis yang disiramkan diatas tubuh gurame. Jejak bau amis dan bau tanah yang biasa menjadi BB gurame pun tak lagi tercium pada hidangan ini.

Soal bumbu pecak ini, ada warung yang membuat racikan dengan warna kuning oranye karena pemakaian kunyit dan cabai yang garang. Namun, racikan Haji Muhayar ini lebih cantik tanpa kehilangan rasa pedas, gurih yang seimbang!

Sepiring nasi putih hangat menjadi teman menikamti pecak gurame goreng. Ikan guramenya berwarna kecokelatan, digoreng dengan minyak panas yang tinggi. Hasilnya, luarnya garing, dalamnya sangat lembut gurih! Aroma rempah lamat-lamat langsung tercium saat saya menyuapkannya ke dalam mulut bersama nasi. Nyam nyam... rasa asam, pedas, dan sedikit asin dari kuah pecak sangat serasi beradu dengan daging gurame yang segar. Karena penyuka pedas, saya tambahkan sedikit sambal terasi. Wuihh... ternyata rasanya jadi makin dahsyat, saya pun jadi tambah kalap dibuatnya!

Sajian lain yang tak kalah memikat adalah ayam goreng kampung warung Betawi ini. Ayam kampungnya digoreng kecokelatan, tidak terlalu kering. Tanpa kesulitan si daging langsung terkoyak, benar-benar terasa empuk dengan bumbu yang benar-benar meresap sempurna. Aroma bawang putih tercium kuat. Dengan pelengkap berupa sayur asem, sambal terasi dan lalapan, hmm... jadi makin dahsyat!.

Yang tak kalah enak dan unik adalah sayur asem khas Betawi yang ada di rumah makan ini. Isinya berupa kacang kulit, jagung, pepaya muda, labu siem. Bedanya di sayur asem ini terdapat potongan oncom berukuran segi empat yang membedakannya dari sayur asem lainnya. Kuahnya pun bening tanpa gerusan cabai atau kacang. Rasanya murni asam segar sedikit gurih. Potongan oncom yang mirip potongan bata ini jadi ciri khas Betawinya.

Untuk seporsi Pecak Ikan Gurame Goreng yang lezat saya cukup membayar Rp 40.000, sedangkan untuk sepotong ayam goreng kampung Rp 18.000,00 dan Rp 4000.000 saja untuk seporsi sayur asem Betawi. Nah, tertarik ingin menjajal kedahsyatan kuliner Betawi di hari ulang tahun Jakarte nanti? Nyokk... kita rame-rame makan di warung babe Muhayar aje! (eka/Odi)

Warung Betawi Haji Muhayar
Jl. Taman Margasatwa No.8
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telp: 021-7813945
HP: 0812-858-2750
Jam Buka: 08.00 - 21.00


Sumber: detikfood
Kunjungi juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

17.6.09

Bebek Bakar Madu: Manis, Gurih, Empuk Beraduk Jadi Satu

Pernah mencoba bebek bakar? Bagaimana rasanya? Spesial banget, kan...? Ya, itulah pengalaman saya kali pertama menikmati menu bebek bakar madu di Waroeng Delta 5, Jalan Ketintang Barat, Surabaya.

Di Surabaya, menu bebek bukanlah santapan aneh, meskipun juga bukan termasuk makanan biasa, alias istimewa dan terjangkau oleh semua kalangan. Kebanyakan warung penyedia sajian bebek mencatatkan pilihan menunya pada bebek goreng atau nasi bebek. Jarang yang melakukan inovasi menu bebeknya dengan aneka pilihan. Padahal daging bebek cukup enak untuk dijadikan sate atau pun dibakar.

Pada suatu kesempatan belum lama ini, saya tertarik mampir ke sebuah warung di bantaran anak sungai Kali Berantas dekat Rolak (pintu air) Karah, namanya Waroeng Delta 5. Hampir setiap petang, warung ini selalu ramai pengunjung, khususnya para kaum muda. Suasananya yang dikemas cukup artistik dengan dekorasi klasik mampu menciptakan kenyamanan tersendiri bagi pengunjung. Apalagi pemandangan malam yang memendar di permukaan air sungai penuh kelipan warna-warni lampu penerangan dan kendaraan yang seliweran dari kejauhan cukup menyejukkan hati.
Kenyamanan tersebut makin komplet dengan ketersediaan menu-menu istimewa. Salah satunya adalah bebek bakar. Ada sih, sebenarnya menu ’bakar-bakaran’ lain yang cukup mengundang selera yaitu iga bakar. Namun karena kurang gairah menyantapnya, maka petang itu cukuplah memutuskan pilihan pada bebek bakar madu saja.
Sekitar sepuluh menit pasca pemesanan, seorang pramusaji pria datang mengantar pesanan ke meja lesehahan. Sepiring menu bebek bakar madu plus nasi putih punel hangat dengan minuman jus jambu marah. Ehmmm... langsung saja menyantapnya. Karena menu bebek kalau dingin tersapu angin maka aroma kelezatannya akan berkurang.
Ketika mencoba menusuknya menggunakan garpu dan sendok untuk melepas daging bebek dari tulangnya, eh ternyata mudah sekali. Dagingnya bisa copot sendiri, sehingga tak perlu susah payah membongkarnya. Begitu masuk di mulut, rasa gurih dan manis benar-benar padu dengan empuknya sang bebek. Tak ada komentar lain, selain uewenaakk tenaaann!
Bumbu yang didominasi kecap manis untuk proses pembakaran dan sapuan madu pada kuas saat pemanggangan, benar-benar merasuk ke pori daging bebek sehinggga terciptalah rasa begitu luar biasa. Jadi, proses masakanya sangat sederhana sehingga tidak butuh waktu lama bagi customer dalam menunggu pesanan. Apalagi sajiannya pun cukup ditambah irisan mentimun dan tomat buah sebagai lalapannya.
Untuk pendorong rasa haus, minumannya bisa memilih jus buah, di antaranya jus jambu merah yang menggoda. Jadi, meskipun bebek cukup tinggi kandungan kolesterolnya, rasanya impas sudah bila usai makan langsung digelontor minuman jus buah sebagai pelarutnya. (arohmanmail@yahoo.com)

Sumber: www.arohman.co.cc
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau kunjungi juga www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Nostalgia Sate Kambing Pak Hardjono

Kalau menyantap satai kambing memang harus berlagak lupa-lupa ingat akan kadar kolesterol darah. Apalagi satai kambing yang satu ini. Potongan dagingnya besar berselingan dengan lemak yang sudah sedikit gosong. Dilumuri kecap manis plus disuap bersama irisan tomat dan bawang merah. Amboiii..lezat dahsyat!

Jika ada yang tanya 'Sate kambing mana yang paling enak?', pastilah nama warung sate kambing Djono Jogya bakal disebut. Warung sate ini memang sudah ada di kawasan Pejompongan sejak tahun 1980 an. Karena itu pula dengan rasa kangen berat akan sate kambing, Sabtu malam itu saya pun berusaha melacak kembali kelezatan sate kambing ini.

Ternyata tak banyak yang berubah, ada jajaran panggangan sate ada di depan rumah makan yang sederhana, tanpa AC ini. Terus terang kepulan asap yang wangi ini sering membuat rasa lapar jadi makin berat. Selain sate kambing, andalan rumah makan yang dirintis oleh almarhum pak Hardjono ini adalah sup kambing dan gule kambing.

Di salah satu lemari kaca terdapat juga cobek besar tempat meracik karedok dan gado-gado. Ya, dua makanan berbasis sayuran ini juga banyak digemari pengunjung termasuk saya. Maka malam itu saya memesan gado-gado selain sate kambing, sate ayam, dan sup kambing.

Bicara soal sate kambing dengan embel-embel Jogya ini menunjukkan asal si pemilik. Karena di Jogya sate kambing tidaklah terlalu kondang. Sambil menunggu sate kambing dibakar, sayapun tak membiarkan mulut menganggur. Seporsi tahu Sumedang yang panas mengepulpun kami kunyah bersama cabai rawit segar! Gurih, lembut dan dengan kulit garing di luar menunjukkan kualitas tahu yang bagus!

Gado-gado dan sup kambing datang lebih cepat. Gado-gadonya tak jauh beda dengan tampilan gado-gado uleg umumnya. Sayuran yang terdiri dari kacang panjang, tauge, kol dan kangkung berlumuran bumbu kacang yang mlekoh dan tebal. Gurih manis pedas, paduan rasa yang segar di mulut. Ternyata enak juga malam-malam makan gado-gado!

Sup kambing yang disajikan dalam mangkuk sedang berkuah bening. Aroma wangi kaldu menebar, menusuk hidung. Kuahnya gurih, dengan rasa kaldu yang kuat. Sementara iga kambing yang mungil terasa sungguh empuk dan mudah dikunyah. Benar-benar dimasak dengan api kecil dan lama sehingga kaldunyapun memberi kepekatan rasa kaldu kambing yang kuat.

Rasa alami kaldu sup kambing ini sangat berjodoh dengan sate kambing yang garang. Potongan daging kambingnya cukup besar dengan selipan lemak muda yang cukup besar juga. Dagingnya empuk dan lemaknya langsung nyuuusss..saat digigit, gurih dengan aroma bakar yang kuat. Olesan sedikit kecap manis dan cocolan irisan tomat dan bawang merah menjadi pelengkap yang pas. Rasa gurihnya jadi tidak berbekas di rongga mulut!

Tampilan sate ayam tak jauh beda dengan sate kambing. Potongan dagingnya besar-besar dengan pelengkap sambal kacang. Sayang sekali potongan daging yang besar itu kurang ocok buat saya. Terasa terlalu tebal, kurang meresap bumbunya. Tidak seperti sate ayam Madura yang agak tipis, lebih gurih dan enak.

Puas rasanya sudah menebus kangen sate kambing pak Djono yang ternyata masih konsisten dengan empuk dan lembutnya daging kambing. Harga yang saya bayarpun sesuai dengan kelezatannya. Seporsi sate kambing (10 tusuk) Rp. 34.000,00, sate ayam Rp. 28.000,00 dan seporsi gado-gado Rp. 12.000,00. (eka/Odi)

Sate Djono Jogya
Jl Penjernihan I No 5B
Pejompongan
Jakarta Pusat
Telpon: 021-5701292.


Sumber: detikfood.com
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

15.6.09

Berkeringat Menyantap Nasi Uduk Bansus

Siapa yang tak kenal nasi uduk? Butiran nasinya yang gurih menebarkan aroma wangi ini, paling enak disantap bersama sepotong ayam goreng, empal, dan guyuran sambal kacang yang pedas gurih. Seruputan bansus hangat menjadi ending yang pas di tengah sejuknya udara malam kota Bogor!

Sore mulai menjelang saat saya dah teman-teman menyusuri Jl. Pahlawan, kawasan Empang Bogor. Belum lagi cuaca yang sedikit mendung sore itu, membuat kami sedikit cemas saat warung makan tujuan kami belum lagi terlihat.

Sudah agak lama kami tak menyambangi daerah Empang yang selalu padat dan macet. ’Warung 'Nasi Uduk Bansus' yang terletak sebelum lampu merah Empang. Penjual nasi uduk ini biasa berjualan sekitar jam 5 sore hingga malam. Tempatnya tak mewah, melainkan hanya sebuah warung tenda sederhana yang menempati emperan sebuah toko yang tutup di sore hari.

Tak lama spanduk besar yang menutupi warung bertuliskan 'Nasi Uduk Bansus' mulai terlihat dari arah jalan raya. Merekahlah senyum kami, karena lezatnya nasi uduk dan hangatnya bansus sudah terbayang di pelupuk mata. Hmm... sedapp! Rada aneh memang, mencari nasi uduk Betawi di kota Bogor.

Ketika memasuki warung tenda, wuihh... hampir semua kursi plastik yang mengelilingi meja besar berisi aneka lauk-pauk terisi oleh pengunjung. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak sedang asyik menikmati nasi uduk. Beberapa di antaranya sedang asik menghirup segelas bansus hangat.

Tanpa membuang waktu kami langsung menyerbu nasi uduk yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk kerucut. Saat dibuka aroma wangi sereh dan daun pisang langsung menggelitik hidung hmm... harum. Yang saya suka di warung ini, lauk pauk seperti empal goreng, paru goreng, sate jengkol, bakwan, bacem, sate usus, ditaruh dalam wadah dari stainless steel yang apik. Untuk menjaga kebersihan wadah-wadah berisi makanan tadi ditutup dalam plastik transparan.

Kalap melihat lauk-pauk yang serba menggiurkan, saya pun menambahkan setusuk satai telur, empal, paru, dan tempe bacem. Yang istimewa menurut saya di warung ini gurihnya nasi uduk pas tak berlebih. Porsinya juga sesuai dengan perut, tidak terlalu banyak atau sedikit. Gaya penyajiannya tak jauh beda dengan nasi uduk Tanah Abang.

BBelum pas rasanya jika menikmati nasi uduk ini tanpa sambal kacang. Daging empal makin enak setelah dicocolkan sambal kacang yang rasanya gurih, sedikit manis dan pedas. Hmm... sedapp! Apalagi sambalnya tidak digerus terlalu halus, sehingga masih terasa krenyes-krenyes cincangan kasar kacang saat dinikmati. Warnanya kemerahan dengan rasa cabai yang lumayan menggigit membuat titik keringat mulai bermunculan. Paru gorengnya juga bisa diacungi jempol, meskipun rasanya sedikit cenderung manis.

Untuk menikmati nasi uduk ini memang akan semakin sedap jika disantap menggunakan tangan. Buat penyuka jengki alias jengkol, jangan lupa cicipi sate jengkolnya yang terkenal jauh dari bau tak sedap. Tak heran kalau sate jengkol menjadi salah satu menu yang paling dicari.

Setelah perut kekenyangan, segelas bansus hangat sudah menunggu. Bansus ini merupakan pendamping nasi uduk yang tak boleh dilewatkan. Slurpp... tambahan susu rupanya membuat rasa bandrek yang pedas menjadi sedikit berkurang. Hmm... nikmat hangat menjalar ke seluruh tubuh, sungguh menjadi ending yang luar biasa nikmat.

Sebungkus nasi uduk dihargai Rp 3.500, empal dan paru masing-masing Rp 8.000,00, dan bacem Rp 2.000,00. Cukup murah bukan Nah, buat yang ingin berwisata kuliner di Bogor jangan hanya melulu mencicipi soto Bogor atau roti unyil. Sesekali mampirlah menikmati nasi uduk plus bandrek susu yang lezat sekaligus murah meriah ini! (dev/Odi)

Nasi Uduk Bansus
Jl. Pahlawan Empang Bogor
Telp: 0251-8314650
HP: 081311027274
Jam Buka: 17.00 - 22.00


Sumber:
detikfood.com
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

13.6.09

Makanan Laut di Kedonganan


Kami sedang dalam perjalanan menuju kawasan Nusa Dua, Bali, dari Bandara Ngurah Rai akhir Mei lalu ketika sopir menyebut tentang kawasan tempat makan ikan bakar Kedonganan.

Kata Kadek, pengemudi mobil, tempat makan di Teluk Jimbaran ini tidak seramai dua tempat sejenis di kawasan Jimbaran, yaitu di Jimbaran dan Muaya, tetapi jenis makanan yang ditawarkan sama, yaitu aneka makanan laut. Selain itu, Kedonganan ini searah dengan penginapan tujuan.

Dari jalan By Pass Nusa Dua Kadek membelokkan mobil ke a rah Kedonganan dan dia menghentikan mobil di Blue Marlin, salah satu dari 24 restoran di Kedonganan.

Di bagian depan terdapat gerai yang memajang aneka ikan dan cumi yang diberi es, kepiting dan kerang hidup, serta bak-bak kaca bersusun berisi lobster dan hiu dengan sirip punggung berwarna hitam di ujungnya yang berenang-renang. Ini jenis hiu yang biasa terdapat di karang dan ternyata hanya hiasan, tidak termasuk di dalam menu yang disajikan di sana.

Tempat ini di luar harapan saya yang masih membayangkan suasana tempat makan di tepi pantai Jimbaran yang biasa kami datangi: ramai oleh hiruk-pikuk tamu dan tempat terkesan dibuat seadanya.

Di Kedonganan suasana terasa lebih teratur. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 dan saat itu Jumat malam. Restoran terbuka itu tidak terlalu ramai di bagian dalam dan masih tersedia meja di tepi pantai.

Di meja sebelah ada sepasang turis Jepang. Saya sempat mencuri dengar percakapan mereka dengan pramusaji ketika mereka mengatakan sedang berbulan madu di Bali. Sementara itu, kursi-kursi yang lebih dekat ke bibir pantai diisi turis berkulit putih dan juga turis Indonesia.

Menurut Niki (24) yang mengaku sebagai koordinator para pramusaji di Blue Marlin, tamu berkulit putih tersebut sebagian besar dari Eropa Barat, seperti Belanda dan Jerman, serta beberapa dari Rusia.

Beradu layanan

Makan di Kedonganan artinya menikmati pantai yang relatif bersih dengan debur ombak terdengar ritmis memecah pantai. Jumat malam tiga pekan lalu suasana terasa tenang, hanya terdengar suara ombak dan agak jauh ada kelompok pemusik bergitar menyanyikan lagu untuk para turis. Sebagian ikut menyanyi dan berjoget, sebagian yang lain tetap duduk tenang-tenang.

Tidak ada pembatas antara kursi dan meja milik satu restoran dan restoran lain. Sepanjang pantai tempat ke-24 restoran di Kedonganan berdiri meja dan kursi seperti bersatu. Pembedaan akan terlihat dari bentuk meja dan peralatan makan.

Semua menjual menu yang sama, yaitu makanan berasal dari hasil laut. Dengan pantai yang ditawarkan juga sama, maka masing-masing restoran mengandalkan layanan sebaik-baiknya dan tentu saja kelezatan masakan.

Di Blue Marlin menu yang ditawarkan aneka ikan, udang, kerang, kepiting, dan cumi. Seperti kebanyakan restoran lain yang menyediakan menu seperti ini, tamu dipersilakan memilih sendiri jenis dan besar porsi makanan laut yang akan disantap.

Lobster hidup menari-nari di bak kaca dan ditawarkan seharga Rp 550.000 per kg. Rata-rata per ekor beratnya 900 gram. Sedangkan lobster yang sudah mati harganya Rp 425.000 per kg, kepiting hidup Rp 140.000, dan kerang Rp 100.000.

Di Blue Marlin tamu bisa meminta makanan laut itu dibakar, digoreng tepung, dimasak dengan saus tiram, saus asam-manis atau saus cabai, atau dikukus dengan bumbu bawang putih, bumbu jahe atau dikukus polos tanpa bumbu.

Di dalam harga menu utama itu sudah termasuk nasi putih, pelecing kangkung, sup kepiting yang bening, serta tiga macam bumbu, yaitu sambal tomat, bawang putih cincang, dan sambal matah yang dibuat dari irisan bawang merah serta terasi. Untuk penutup, masih disediakan irisan buah yang malam itu terdiri dari melon, semangka, dan nanas.

Kepiting kukus saus bawang putih dan kerang saus asam-manis tidak terlalu istimewa, kecuali bahwa bahan bakunya segar. Sambal matah alias sambal mentah karena disajikan segar yang memang menjadi favorit saya, langsung habis tandas. Kangkungnya ditumis dengan sedikit minyak, tetapi tetap belum bisa mengalahkan pelecing kangkung di Lombok yang renyah dan lembut ketika disantap dengan sambal tomat dan kacang goreng penawar pedas.

Menurut Niki, bawang putih cincang disajikan karena banyak tamu suka memakannya bersama ikan bakar. Saya tidak memesan ikan bakar karena ikan yang tersedia ukurannya terlalu besar untuk kebutuhan saya.

Seandainya mata tidak mulai terasa berat dan besok pagi sudah ada acara, saya masih ingin duduk lebih lama menikmati malam, suara ombak, dan kesibukan penjual jagung rebus di bibir pantai yang lampu petromaksnya seperti tak berdaya menerangi pantai yang gelap. (Ninuk Mardiana Pambudy)

Sumber: KOMPAS
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

Sambal Rujak Khas Sylvia Sumargo

Makanan berserat, seperti sayur dan buah-buahan, sangat dibutuhkan tubuh. Vitamin dan mineral yang dikandung buah dan sayur bermanfaat dalam menjaga kesehatan seseorang. Namun, ada kalanya warga evergreen malas mengonsumsi dua jenis makanan tersebut. Sebab, mereka sudah terbiasa dengan makanan berasa gurih.

Untuk membangkitkan selera, cara Sylvia Sumargo ini bisa dicoba. Perempuan berusia 58 tahun itu biasa menggunakan sambal rujak buatan sendiri sebagai teman makan buah atau sayur.

Cara membuatnya sangat mudah. Tapi, jangan ragukan rasanya. Bumbu rujak Sylvia itu laris saat dijual dalam botol-botol kemasan di sejumlah toko di Surabaya. Pesanan juga terus mengalir. "Bumbu ini juga bisa digunakan untuk menikmati tahu goreng," ucapnya.

Sylvia menjamin tidak ada bahan pengawet dalam bumbu rujaknya yang bisa tahan hingga sepuluh bulan itu. "Kenapa bisa tahan selama itu karena saya pakai bahan terbaik. Selain itu, saat merebus, benar-benar tanak dan matang," ujarnya.

Bahan merupakan hal terpenting yang diperhatikan Sylvia saat membuat masakan. Bahan yang bagus akan membuat kualitas masakan yang dihasilkan baik. Rasanya juga nikmat dan aman bagi kesehatan. "Kalau sudah ditemani sambal ini, dijamin nggak malas lagi makan buah," katanya, lantas tertawa.

Kepada pembaca evergreen, Sylvia juga membagikan dua resep lain. Yaitu, bika ambon dan rawon istimewa favorit keluarga. Untuk dua masakan itu, Sylvia juga benar-benar memperhatikan takaran bahan yang digunakan. Dia tidak ingin menggunakan bahan secara berlebihan. Untuk kue tersebut, dia memakai gula secukupnya. "Orang-orang seumur saya sebaiknya memang mengurangi gula. Karena itulah, kue yang saya buat rasanya tidak terlalu manis," tuturnya.

Pengurangan rasa manis juga membuat masakan lebih enak. Tidak enek dan membosankan sehingga orang dapat memakannya berulang-ulang. "Kalau terlalu manis, biasanya orang makan satu saja sudah tidak ingin mengambil lagi," ujar perempuan yang gemar menyanyi itu.

Selain rasa, Slyvia sangat memperhatikan penampilan makanan yang dibuatnya. Karena itulah, dia selalu menyajikan penganan buatannya seindah-indahnya. Bahkan, untuk menarik perhatian para penikmat masakan, dia rela membuat kue bika ambonnya kecil-kecil berbentuk bulat, tidak kotak seperti yang kebanyakan dijual orang.

Untuk membuat bentuk seperti itu, dibutuhkan waktu lebih lama karena perlu ketelatenan ekstra membolak-balik adonan supaya benar-benar matang. "Repot sedikit, tapi puas hasilnya. Tampilan makan juga memengaruhi selera," ujarnya.

Tidak hanya gula yang dikurangi Sylvia saat membuat masakan. Kandungan lemak dalam makanan buatannya juga diperhatikan. Karena itu, ketika memasak rawon, dia memilih bagian daging yang tak banyak gajih. "Khawatir kolesterol meningkat," ucapnya memberikan alasan.

Memasak menu sehat itu, sepertinya, sedikit lebih ribet. Pilihan bahan tak boleh asal, juga harus memberi perhatian lebih saat memasak. Tapi, kata Sylvia, hal itu sebanding dengan efek positif yang dihasilkan. "Kita nggak mau makanan yang masuk dalam tubuh justru merusak tubuh itu sendiri kan," tanyanya retoris. (may/ayi)

Sejak Kecil Sering Menghabiskan Waktu di Dapur


Memasak memang bukan hal baru bagi Sylvia Sumargo. Sejak kecil, perempuan berusia 58 tahun itu sering menghabiskan waktu di dapur. Mendiang ibunya, Tan Lein Nio, yang menumbuhkan semangat ibu satu anak tersebut untuk bisa meracik bumbu menjadi sajian yang nikmat. "Ibu saya memang menginginkan anak perempuannya bisa memasak," ucapnya.

Meski telah diajari berbagai macam membuat masakan, Sylvia mengaku tidak dibimbing ibunya untuk menyajikan sambal rujak maupun rawon. Maklum, orang tuanya berasal dari Tiongkok. Jadi, masakan yang diajarkan lebih banyak masakan dari tanah kelahiran mereka. "Saya membuat sambal rujak manis itu karena terpengaruh salah seorang karyawan orang tua saya," kata dia.

Kala itu, kata Sylvia, dia membantu orang tua berdagang gula merah. Tugas Sylvia hanya duduk, menunggu pembeli datang. "Waktu saya duduk itulah, salah seorang karyawan bilang, daripada duduk lebih baik memanfaatkan waktu untuk hal berguna berbekal bahan yang ada," ucapnya.

Sylvia setuju dengan ucapan tersebut. "Karena orang tua berdagang gula merah, kenapa saya tidak membuat sambal dari gula itu saja ya. Lagi pula, saat itu belum banyak orang yang membuat sambal tersebut," terangnya.

Mulai saat itu, Sylvia mencoba-coba membuat sambal. Hasil karyanya tersebut dia bawa di acara kumpul-kumpul dengan keluarga atau teman. "Mereka bilang, sambal saya enak. Lalu, banyak yang pesan sampai sekarang," ujarnya lantas tertawa.

Di tengah kesibukannya membuat sambal rujak kemasan yang laris saat dititipkan di sejumlah toko itu, Slyvia terus berkreasi membuat berbagai resep masakan. Dia tidak segan-segan bertanya kepada orang atau melihat bahan bacaan terkait dengan resep yang diinginkan. "Sampai sekuat tenaga saya, saya terus akan memasak," tegasnya. (may/ayi)



Rawon Istimewa


Bahan:
- Daging rawonan 1 kg
- Taoge kecil secukupnya
- Kerupuk udang

Bumbu:
- Bawang merah 50 gram
- Bawang putih 25 gram
- Ketumbar 1 sdm
- Cabai merah besar 1 ruas
- Kemiri 5 biji
- Kunyit 1 ruas
- Lengkuas 1 ruas
- Daun jeruk 1 lembar
- Keluwek 5 biji
- Serai secukupnya
- Garam secukupnya
- Gula secukupnya

Cara Membuat:
1. Semua bumbu dihaluskan, kecuali serai, daun jeruk, dan lengkuas.
2. Setelah halus, ditumis dengan sedikit minyak hingga harum.
3. Angkat, masukkan dalam panci presto yang telah berisi air dan daging.
4. Tambahkan serai, daun jeruk, dan lengkuas
5. Tutup panci untuk mematangkan masakan selama 15 menit supaya bumbu benar-benar meresap ke dalam masakan.
6. Setelah matang, sajikan rawon dalam keadaan panas dengan pelengkap taoge, kerupuk dan sambal yang terdiri atas terasi, gula, garam, dan cabai.

Sambal Rujak Manis

Bahan:
- Gula Merah seperempat kg
- Asam jawa masak 50 gram
- Cabai rawit sesuai selera
- Garam secukupnya
- Bawang goreng secukupnya

Cara Membuat:
1. Cabai, garam, dan bawang dihaluskan, campur sampai rata.
2. Didihkan air satu gelas, campur dengan gula dan asam. Setelah mendidih, masukkan cabai dan bawang putih.
3. Masak terus hingga tanak, sekitar 10 menit, supaya sambal tahan lama.
4. Setelah sambal benar-benar masak, angkat lalu dinginkan.
5. Untuk menghilangkan biji cabai dan serat asam, saring sambal sebelum dihidangkan.
6. Tambahkan kacang goreng yang telah dihaluskan saat sambal akan digunakan untuk menikmati buah buahan.

---

Bika Ambon

Bahan Bika:
- Terigu 50 gram
- Fermipan 1 bungkus
- Gula 50 gram
- Air hangat secukupnya

Cara Membuat:
1. Fermipan, terigu, dan gula dicampur menjadi satu.
2. Setelah rata, tambahkan air hangat. Aduk terus hingga adonan menjadi kenyal lalu didiamkan dan sisihkan.

Bahan Adonan:
- Kuning telur 10 butir
- Gula halus 250 gram
- Santan 350 cc
- Tepung kanji 150 gram

Cara membuat:

1. Kuning telur dan gula di-mixer hingga mengembang. Setelah mengembang, biang dimasukkan. Aduk terus hingga rata dan tambahkan tepung kanji.
2. Setelah tercampur semuanya, santan dimasukkan.
3. Diamkan bahan yang telah tercampur selama 2-3 jam.
4. Kemudian, panggang dalam loyang cetakan bulat kecil kecil selama 15 menit sambil terus dibolak-balik hingga matang.
5. Setelah matang, sajikan.

Sumber: Jawa Pos
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org

Sphere: Related Content

12.6.09

Kerang Sebaiknya Tidak Digoreng

ADA berbagai macam kerang yang bisa disulap sebagai sajian lezat. Mulai kerang kelas terjangkau seperti kerang darah dan hijau. Sampai kerang high end. Misalnya, oyster, scallop, dan mussle.

''Yang paling mahal jenisnya abalone. Kerang itu berada di kedalaman 300 meter permukaan laut,'' kata Maranata Butar-Butar, executive chef Hotel JW Marriott Surabaya.

Dipaparkan chef yang akrab disapa Nata itu, harga abalone sekitar Rp 600-800 ribu per kaleng. ''Tekstur daging abalone juga lebih kenyal dibanding kerang lain. Itu juga membuat kerang tersebut lebih mahal," ulasnya.

Untuk memasak kerang tidak membutuhkan teknik khusus. Namun, lelaki 35 tahun itu menyarankan agar tidak menggoreng kerang. Cara pemasakan seperti itu akan membuat vitamin dan mineralnya cepat hilang. ''Selain itu, juga akan mengubah tekstur kerang,'' paparnya.

Kalaupun hendak digoreng, Nata menyarankan kerang dibalut tepung terlebih dahulu. Tak usah terlalu tebal, tipis namun merata. Kemudian, dipanaskan di penggorengan dengan sedikit minyak. ''Tak lebih dari 30 detik, kerang langsung diangkat dari penggorengan,'' ucapnya. Kerang juga bisa dikukus dan dipanggang.

Khusus jenis mussle, bisa dimakan ala sushi alias dimakan mentah. Untuk menghilangkan amis, kerang mussle bisa diasapi dulu. ''Setelah itu, bisa langsung dimakan,'' kata Nata. Untuk jenis oyster, bisa diberi air perasan jeruk untuk menghilangkan amis.

Sebelum dimasak, kerang, khususnya yang langsung dari laut, mendapatkan perlakuan khusus. ''Jika beli di supermarket, biasanya sudah bersih. Tinggal, diolah,'' teran Nata.

Untuk kerang fresh dari laut, kerang dibasuh dengan air mengalir selama 72 jam. Atau direndam selama 15 hari. Tiap hari, air rendaman diganti. Tujuannya untuk membersihkan kerang beserta cangkangnya. (ai/tia)

Sumber:
JAWA POS
Foto: menuewoy.blogspot.com
klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau http://www.bangomania.org

Sphere: Related Content

11.6.09

Berburu Menu Istimewa Khas Gresik

Makanan khas memang kerap kali menimbulkan kerinduan tersendiri bagi penikmatnya. Terbukti, saya selalu merasa kangen terhadap makanan khas Gresik, yaitu Nasi Krawu. Sajiannya sih sederhana, hanya terdiri atas nasi putih, serundeng, dan sambal petis. Lauknya berupa empal daging, namun kebanyakan berupa jeroan. Disajikan kering, berarti tanpa kuah. Sedangkan bagi yang suka kuah biasanya disiram sedikit kuah dari jeroan yang dimasak seperti semur.


Belum lama ini, ketika pulang kampung, saya menyempatkan diri mampir ke Depot Nasi Krawu ”Bu Ria” di jalan Jaksa Agung Suprapto, depan radio RKPD Gresik. Ada beberapa tempat (depot) nasi krawu ternama di kota pudak ini, namun yang cukup legendaris adalah, warung Bu Tiban di jalan Abdul Karim, Terate, Gresik atau selatan pasar lama.
Nasi krawu cocok untuk menu dalam segala suasana; sarapan, makan siang, maupun santap malam. Untuk itu, bertandang ke Gresik kapan pun Anda bisa mencoba nasi krawu ini dengan cita rasa apa adanya. Untuk setiap porsinya harga nasi krawu termasuk tidak mahal. Biasaya dihargai antara Rp. 7.000 untuk paket biasa. Sedangkan bagi yang nambah lauk nambah sekitar Rp 3000 an, sesuai lauk pilihan tambahannya.
Nama nasi krawu sendiri diambil dari cara penyajiannya yaitu dikrawuk, atau mengambil nasi tanpa entong (sendok nasi), namun cukup dengan telapak tangan kosong. Untuk menjaga kehigienisannya, biasanya penjual menggunakan sarung tangan plastik, sehingga terjamin kebersihan.

Iwak Manuk
Bergeser terus ke utara, wilayah Gresik pesisiran yang notabene terdiri atas tambak ikan seperti di kecamatan Manyar, Desa Sembayat, maka di sana banyak dijumpai warung-warung makan yang menyediakan menu hasil tambak. Dan yang paling terkenal adalah iwak manuk, atau menu dengan lauk daging burung.

Biasanya, burung yang diolah merupakan burung-burung hama tambak, seperti bango dan belkok. Para petani tambak biasanya mengambil anakan burung yang jatuh dari sarangnya, atau burung-burung tua yang tak lagi bisa terbang.
Jauh waktu sebelum burung tambak ini populer sebagai bagian dari menu istimewa di depot dan warung pinggir jalan, biasanya burung-burung itu didapat dengan cara menyambit sekawanan burung yang terbang di atas pertambakan menggunakan benang layang-layang. Namun seiring perkembangan zaman, kini kerap juga pemburu burung tambak itu menggunakan senapan angin, pancing, atau bahkan pestisida ikan.
Harga per porsinya pun tidak mahal, hanya berkisar Rp. 6.000 an, sementara potongan burung goreng (bagian dada plus sayap, atau bagian paha plus kerongkongan) dihargai antara Rp. 3.000 sanpai 5.000 an.

Ikan Sembilang
Untuk jenis ikan yang banyak dijadikan menu pilihan adalah ikan sembilang. Biasanya ikan sembilang ini sangat segar dengan dimasak bumbu kuning atau asem-asem. Dengan kuah yang berlimpah, menu ikan sembilang yang panas sangat nikmat disantap di tengah garingnya udara pesisir Gresik di musim kemarau seperti sekarang ini.
Ikan sembilang merupakan jenis ikan laut yang biasa didapat oleh nelayan setempat di muara sungai Bengawan Solo yang masuk ke laut. Bentuk dan teste ikan sembilang menyerupai lele. Hanya saja sembilang hidup di air asin.
Kepiting dan udang juga banyak dijadikan menu istimewa pada sebagian warung pinggir jalan di sepanjang raya Deandeles, dari Manyar hingga Sidayu, bahkan Ujung Pangkah. So, sepertinya masih belum puas menyantap menu-menu istimewa tersebut... (arohmanmail@yahoo.com)

Sumber: www.arohman.co.cc
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau http://www.bangomania.org

Sphere: Related Content