30.8.05

Festival Jajanan Bango di Bandung Euy!

Anda hobi makan atau menikmati jajanan khas suatu daerah? Tentu saja tak akan melupakan Bandung, yang kini selain terkenal sebagai kota Sejuta FO, juga kaya makanan menggoyang lidah.
Jika Anda datang ke lapangan Gasibu pada Minggu (21/8), Anda tak usah repot harus berkeliling Bandung untuk menyicipi lezatnya makanan Paris Van Java ini. Betapa tidak, pada satu hari ini Gasibu menjadi 'lautan manusia' yang tertarik menyaksikan dan menikmati 'Festival Jajanan Bango' yang diikuti oleh sekitar 52 pedagang dengan menyajikan 70 jenis hidangan. Asyik kan?

Rusmaina Lenggogeni, Senior Brand Manager Kecap Bango menyatakan melalui Festival Jajanan Bango ini, kecap Bango ingin melestarikan berbagai macam masakan khas Indonesia yang posisinya kian terancam dengan maraknya masakan luar negeri yang lebih menggoda kita untuk mencobanya.

Sekitar lima belas ribu pengunjung, baik dari Bandung atau kota sekitarnya (bahkan saya melihat banyak mobil berpelat Jakarta!) tumpah-ruah di lapangan Gasibu. Hampir semua pedagang yang ikut terlibat dalam Festival Jajanan Bango menggunakan kecap Bango (yang benar-benar kecap!) sebagai teman andalan menikmati santapan. Saya mencoba soto tangkar (soto dengan irisan kentang goreng, bihun, daging sapi, emping dan tomat) seporsi kecil. Lumayan mengenyangkan ...tapi harganya lumayan juga, Rp10.000 per porsi berikut nasi. Lalu saya cicipi batagor Kingsley yang stand-nya tak pernah sepi pengunjung.

Bayangkan, seiris batagor (baso tahu goreng) dihargai Rp4.000! Kenyang? Jelas tidak. Saya menghabiskan sampai lima potong, dengan kecap saja, karena bumbu kacangnya habis. benar-benar laris manis. Pembeli setelah saya bahkan rela mengantre menunggu pasokan batagor dan bumbu kacang datang.



Selain tersedia stand yang menyajikan aneka masakan dan jananan khas Bandung, juga digelar demo masak oleh Chef Djaelani dari Unilever Fast Food, dipandu oleh pembawa acara Taufik Savalas dan Ulfa Dwiyanti. Acara yang dimulai sejak 09.00 WIB hingga 17.00 WIB ini berlangsung meriah.
Sebagai informasi, masakan aski Bandung yang ikut daam acara nan meriah ini adalah Oncom & Leuncah Cibabat, sate Kardjan, Bakso Tulen Sie Siu Hien, Lomie Imam Bonjol, Mie Kocok Akbar, Sop Kaki Banceuy, Bubur Ayam Ceker, nasi Timbel Sari Sunda, Es Celdol Elizabeth, Es Goyobod, juga ada cilok, cimong, combro, misro serta ketan bakar Lembang.

Sphere: Related Content

21.8.05

FJB di Bandung


Ditulis oleh sandiwijaya di/pada 21st Agustus 2005

Jam 6 pagi sudah pergi ke lapangan Gasibu, persis depan Gedung Sate. Dari jauh udah keliatan jubelan manusia yang ikut menyaksikan. Benar-benar ramai sekali Gasibu hari ini, karena kalau tidak salah ada tiga acara yang sedang menarik perhatian masyarakat Bandung. Seperti misalnya Samsung Fun Run, Lomba Masak dari Kokita, dan Festival jajanan rakyat dari Kecap Bango. Sampai Gasibu langsung gabung dengan jubelan orang2 yang siap lari dalam Samsung Fun Run, dan tak lama kemudian tanda start udah dijalankan.

Wah, dalam kondisi jubelan gini yang ditakutkan adalah dompet dan hape, selain itu takut kesandung ato nabrak orang lain sehingga bisa2 celaka, so harus hati2 dan tetap waspada selalu. Kilometer pertama sih masih segar bugar, alah….cemen abis nih!!! masuk kilometer kedua mulai timbul gejala napas yang sudah putus2, kaki lemas dan segala macam indikasi lainnya. Masuk kilometer ketiga masih sama, dan yang parah akhirnya di kilometer keempat akhirnya jalan kaki sebentar dulu abis temenku juga dah ga kuat, aku kan kasian kalo ninggalin. Tapi abis itu langsung lari lagi, but….kok jadi tambah berat yah? tambah lemes aja rasanya. Masuk kilometer lima masih terus dipaksakan untuk lari, walaupun mungkin dengan kecepatan yang hampir sama dengan kakek2 sehat yang juga sedang lari :), tapi abis itu seperti dapat tenaga baru sehingga di akhir kilometer 6 bisa sedikit tambah kecepatan sampai masuk finish, tapi kok nomer punggungku tidak dicatat sekalipun yak??

Ohhh…pantes, ternyata sudah banyak peserta lain yang udah pada duduk2 di jalan, yah kalah cepet deh…katanya kriterianya adalah ketepatan waktu, tapi kenapa tidak disebutkan waktu tempuh yang seharusnya tuh berapa sih? huuh…kalo tau waktu tempuhnya kan aku bisa mengatur kecepatan lari. Tapi ya sudahlah, walopun tidak dapat hadiah hiburannya cukup bagus dan rame kok, pulangnya sih pengen beli jajanan di Festival Bango tapi kok mahal2 yak, ga jadi deh…..

link:
http://sandiwijaya.wordpress.com/2005/08/


http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

Festival Jajanan Bandung








Hari ini digelar Festival Jajanan Bandung di Gasibu, ada sekitar 200-an pedagang jajanan khas disegala penjuru Bandung dikumpulkan pada hari minggu ini. Kecap cap Bango yang punya gawe', para pedagang itu diseleksi dengan parameter pengguna kecap cap bango... sponsor banget ya? Tapi walau begitu lumayan banget buat saya untuk tahu dan mengenal beberapa jajanan khas yang ada di Bandung ini seperti Sate Kardjan, Bubur Ayam Mang Oyok, Cendol Elizabeth dan Es Goyobod (yang dua terakhir gw bingung... dimana kecap cap bango-nya hehehe).

Karena perut dan uang terbatas saya sama Puji jadi harus milih-milih banget apa yang paling pengen dimakan. Muter-muter sampai bingung tapi nggak bisa milih asli bingung! Yang terkenal enak... habis, yang aneh... antrinya panjang, yang sepi... habis dan yang paling parah pas mau makan ternyata harus pake kupon yang bisa dibeli distand informasi, dan antriannya.... duh panjaaaaang banget! Bela-belain ngantri cuma buat beli kupon 5ribuan 4 biji, habis dapet bingung juga, udah nggak selera makan karena capek desak-desakan.

Ujung-ujungnya kita balik ke bubur ayam kopo... ke si Teteh yang nawarin ke kita pas awal-awal banget (yang kita tolak dengan ucapan sok halus "terimakasih" karena kita nggak mau jauh2 cuma makan bubur ayam). Ternyata enak juga dan taunya pedagangnya "ikhwan" dia juga bisa nebak kita dari DT padahal kita udah nyamar loh, suerrr!

Sempat juga ketemu dengan Neng Mpi sama teh Umaya dan temennya, mereka lagi makan di kupat tahu... (naon gituh gw lupa!) tapi mereka juga kaget kalo makan ternyata harus pakai kupon, soalnya mereka tadi bayarnya cash. Saat itulah saya baru tau kalau ternyata tempat kita makan tadi orang-orangnya soleh plus jujur pisan... soalnya mereka hanya mau nerima kupon yang jadi aturan main disini.

Pulangnya kita sempat beli es goyobod yang rasanya kalah jauh dari tempat aslinya, mungkin ngeramunya buru-buru jadi nggak se-OK kalau beli ditempat. Maklum banyak peminat dan acara ini dipanteng sampai jam lima sore' jadi persediaan dan kecepatan kudu lebih.

Well hari ini asik tapi cape' banget dan terus terang saya masih lapar hehehe...

Posted by Adjie! on Sunday, August 21, 2005 at 9:12 PM | Permalink


http://d3saint.blogspot.com/2005/08/festival-jajanan-bandung.html

Sphere: Related Content

8.8.05

Unilever pertahankan pertumbuhan penjualan di atas dua digit

Wawancara dengan Direktur Utama PT Unilever Indonesia Tbk, Maurits Lalisang

Oleh Sigit Wibowo / Danang Joko

Jakarta – Sunsilk, Pepsodent, Lux, Molto, Lifebuoy, Axe dan Clear merupakan merek produk perawatan rumah dan tubuh (home and Personal Care) yang tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sedangkan untuk produk makanan dan ice cream, ada Blue Band yang legendaris, Bango, Sari Wangi, Royco dan Wall’s.

Masih ada sederet merek produk lagi yang bila disebutkan satu persatu namanya, terasa sangat akrab dengan kehidupan kita. Bisa jadi Anda mempunyai kenangan khusus tak terlupakan dengan salah satu atau lebih produk buatan PT Unilever Indonesia Tbk ini. Benar, merek-merek yang disebutkan di atas memang hanya sebagian kecil dari merek yang dikembangkan PT Unilever Indonesia Tbk.

“Saat ini kami memiliki 33 merek dan beroperasi di 13 kategori sementara di seluruh dunia, Unilever memegang 400 brand,” kata Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk, Maurits Lalisang dalam sebuah wawancara khusus dengan SH di Graha Unilever Jakarta, sore pekan lalu. PT Unilever Indonesia Tbk merupakan anak perusahaan Unilever International yang berkantor pusat di dua kota yakni di London, Inggris dan Rotterdam Belanda. Sementara di Indonesia, Unilever berkantor pusat di Jakarta dan memiliki dua pabrik besar di Cikarang dan Rungkut (Surabaya). Pabrik di Surabaya utamanya memproduksi sabun sedangkan di Cikarang memproduksi es krim, margarin, dan berbagai makanan ringan.

Secara umum Unilever menjadi pemimpin pasar barang konsumer (consumer goods) di Indonesia. Namun, kondisinya tidak sama untuk setiap kategori produk dan wilayah pemasaran.
Kini, Unilever Indonesia telah berusia lebih dari 70 tahun dengan komposisi kepemilikan saham, Mavibel (Maatschap voor Internationale Bellengginggen) B.V 85 persen dan publik 15 persen.

Langit dijunjung

Maurits mengungkapkan prinsip yang selalu dikedepankan Unilever dalam berbisnis. di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. “Unilever pada dasarnya selalu mengikuti aturan yang berlaku dimana ia beroperasi,” ujar Maurits. Itulah alasannya mengapa Unilever Indonesia memutuskan menjadi perusahaan terbuka. Menjadi perusahaan terbuka berarti pembayaran pajak lebih jelas dan transparan karena diaudit oleh lembaga yang berkompeten. Sebagai konsekuensinya, masyarakat bisa ikut memiliki saham Unilever Indonesia.

Di Cina, Unilever menggandeng partner lokal karena pemerintah Cina mengharuskan seperti itu. Sementara di Thailand, Unilever International menguasai saham sepenuhnya. Dalam enam tahun terakhir, penjualan Unilever di Indonesia bertumbuh dua digit atau diatas 10 persen. Omset penjualan untuk tahun 2004 mencapai US$ 1 miliar. “Tahun 2005 ini, saya perkirakan pertumbuhan penjualan akan meningkat signifikan dan tetap berada di atas dua digit,” ujar Maurits optimistis.

Transisi

Tahun 2004 merupakan tahun transisi bagi Unilever Indonesia. Mengapa demikian, karena kepemimpinan kembali berada tangan orang Indonesia asli setelah bertahun-tahun dipimpin oleh orang asing. Tahun lalu, Nihal Kaviratne dari India menyerahkan tongkat estafetnya kepada Maurits Lalisang yang sebelumnya menjabat Direktur Corporate Relations. Maurits memang bukan orang lokal pertama yang menjadi presiden direktur tetapi orang ketiga setelah Yamani Hasan (1980an) dan Sri Urip (1990an). Saat ini, tinggal dua orang asing yang menduduki jabatan direksi.

Potensi tak kalah

Menurut pandangan Maurits, potensi orang lokal sebenarnya tidak kalah dengan orang asing. “Saya merangsang anak-anak pergi ke luar negeri sehingga bisa memperkaya pengalaman dan pengetahuan,” paparnya. Sampai saat ini Unilever Indonesia telah mengirimkan 18 karyawannya ke luar negeri ada yang ke London, Thailand. Rotterdam, Shang Hai (Cina) dan Italia.

Salah satu kendala yang dihadapi yakni banyak orang Indonesia yang enggan ke luar negeri karena merasa sudah enak berada di Indonesia. Terobosan yang dilakukan Maurits antara lain mengirim ke luar negeri untuk jangka waktu 1-2 tahun sehingga mereka bisa bekerja pada budaya dan lingkungan kerja yang berbeda.

Ia mengakui kekuatan Unilever ada pada kualitas sumber daya manusia. Unilever secara rutin merekrut lulusan baru dari universitas terkemuka. Setelah itu diberikan pelatihan selama tiga bulan. Mereka tidak langsung kerja tetapi ditraining di berbagai bidang seperti manufaktur, pemasaran dan litbang (penelitian dan pengembangan).

Saat ini tenaga kerja yang diserap oleh Unilever secara langsung berjumlah 3.000 orang ini belum termasuk tenaga kerja tidak langsung. Total tenaga kerja yang terserap berjumlah 25.000 orang. Jika diansumsikan satu orang memiliki empat anggota keluarga maka perusahaan menanggung nasib sekitar 100.000 orang.

Pangsa terbesar

Indonesia saat ini menjadi pangsa pasar kedua terbesar bagi Unilever setelah India, mengalahkan Cina, Jepang dan Australia. “Indonesia dilihat sebagai permata dari timur oleh Unilever pusat karena pangsa pasarnya memang sangat besar,” kata Maurits. Bahkan dua orang yang menduduki CEO Unilever di kantor pusat pernah bekerja di Indonesia. Memang saat ini persaingan di industri barang konsumer sangat ketat baik dari pemain lokal maupun pemain domestik. Pesaing dari luar seperti P&G sedangkan pesaing lokal seperti Wings. Namun Maurits menganggap positif yang namanya persaingan karena akan menimbulkan inovasi dan tidak menyebabkan monopoli di pasar.

Tantangan terbesar kini dan sangat merugikan adalah maraknya pemalsuan dan penyelundupan. Banyak produk palsu dan selundupan dari Cina sehingga membuat Unilever tidak kompetitif. “Karenanya pemerintah perlu menegakkan aturan main yang jelas karena dalam bisnis yang penting adalah adanya kepastian usaha dan kepastian hukum,” katanya.
Pemerintah harus berani menindak tegas terhadap barang-barang palsu dan selundupan dari Cina yang menggangu industri secara umum. Perlindungan hak cipta perlu dilakukan karena dibutuhkan biaya besar dalam riset dan pengembangan serta biaya iklan. “Hal ini sering membuat kita sebagai pelaku usaha frustasi karena pemerintah tidak mengambil tindakan tegas,” ucap Maurits.

Di samping itu, Maurits berpendapat pemerintah perlu membuat infrastruktur yang memadai berupa jalan sehingga pemasaran produk dapat menjangkau ke seluruh wilayah dengan biaya murah. Hal ini juga sebagai kompensasi rencana penghapusan subsidi BBM di sektor industri.
Terkait dengan penghapusan subsidi BBM bagi industri, Unilever kini mengganti penggunaan solar ke gas untuk pabriknya di Cikarang. Sayang, pasokan gas dari Pertamina tidak konsisten. Jika berniat mengurangi konsumsi minyak bumi maka penyediaan gas harus dilakukan pemerintah.

Organik

Unilever saat ini memang fokus melakukan pertumbuhan organik seperti peningkatan omset penjualan, laba perusahaan dan menekan struktur biaya. Namun tidak menutup kemungkinan melakukan pertumbuhan anorganik. Sepanjang kiprahnya di Indonesia, Unilever telah empat kali mengakuisisi merek. Akuisisi teh celup Sari Wangi dilakukan tahun 1990, Yoohan (dengan berbagai merek seperti Molto, Trisol, Whipol) tahun 1998, kecap Bango tahun 2000 dan Taro tahun 2003. Maurits menekankan, Dalam melakukan akuisisi, Unilever selalu menggunakan dana keuangan internal, tidak perlu injeksi dana kantor pusat.

Ia menekankan, akuisisi hanya akan dilakukan jika bisa mendukung bisnis utama Unilever yang telah ada. Maurits menekankan, Unilever tidak akan keluar dari bisnis utamanya, memproduksi dan memasarkan barang-barang konsumer.

“Unilever tidak akan berniat menguasai industri dari hulu sampai hilir meskipun memiliki kemampuan dari segi pendanaan. Pertumbuhan organik lebih diharapkan,” katanya. Hal ini dibuktikan dengan pendirian kantor pemasaran Unilever Indonesia ke berbagai negara seperti Singapura, Jepang dan Australia. Sabun Lux buatan Rungkut, ice cream Wall’s dan teh Sari Wangi buatan Cikarang bisa ditemukan di ketiga negara ini. Total ekspor produk Unilever Indonesia mencapai enam persen dari omset penjualan.

Copyright © Sinar Harapan 2003


Sinar Harapan - 8 Agustus 2005

Sphere: Related Content