26.3.07

Lapis Surabaya

Bahan untuk lapis yang kuning:

10 btr kuning telur
100 g gula pasir
125 g mentega, kocok
50 g tepung terigu
Bahan untuk lapis coklat:
12 btr kuning telur
110 g gula pasir
125 g mentega, kocok
40 g tepung terigu
10 g bubuk cacao
1/2 sdt baking powder
1 1/2 sdt pasta black forest

Cara membuat :
  1. Kocok telur dan gula hingga kental, matikan mixer.
  2. Masukkan mentega kocok, aduk rata. Masukkan tepung terigu. Aduk rata.
  3. Tuang kedalam loyang tipis 22x22x4cm. oven 20 menit, suhu 180'C.
  4. Pembuatan lapisan kuning dan coklat sama (u coklat: tepung, bubuk cacao & baking pwd diadu dan ayak bersama).
  5. Penyelesaian: setelah dingin, tumpuk kue selang-seling dengan dioles terlebih dahulu dengan selai strawberry.

Oleh: Sri Puji Yuliastuti

Sphere: Related Content

23.3.07

Bango mania blog


Sunday, March 18, 2007

Through Enda Nasution's blog, I found this community of kecap* Bango fans: bango mania. The blog is said to be presented by bloggers, from many countries, who love, enjoy or crazy about kecap Bango. It does not have any ties with the producer of kecap Bango.

As amazed as Enda was, I'm very happy to find this blog, particularly because it says it's presented by bloggers from many countries. My first thought was that it has informations and postings on where to find kecap Bango. But unfortunately it has only one post on the topic in Singapore.

I myself am a loyalist of kecap Bango. Most of the time, I can distinguish Bango from the other kecap (which my wife finds it a bit weird). I think it's the thickness and sweetness that set it apart from the other kecap.

I find it more difficult to find kecap Bango abroad, as compared to kecap ABC. Even here in Malaysia, as Coffeeliqueur also confirmed. It's kinda not nice to ask visiting friends and family to bring a couple of heavy bottles or refills of kecap Bango.

Back in the U.S. we were pretty much dependent on online merchants like indomerchant.com, though some Chinese grocery stores might carry some.

After the brand acquisition by Unilever in 2001, it is said that the business size has grown by 2.2 times, while market share grew by 3% annually. Now it's the matter of distribution worldwide. Bango should benefit from Unilever's worldwide network, as ABC probably does after being acquired by Heinz. So the hope is there.

* Kecap is soy sauce. Bango, in particular, is sweet soy sauce, which has a thick, almost syrupy consistency and a pronounced sweet, treacle-like flavor due to generous addition of palm sugar. It is a unique variety; in a pinch, it may be replaced by molasses with a little vegetable stock stirred in. (Wikipedia)


Posted by bleu at 9:44 PM

Labels: Blogging, Food

About...
bleu
Kuala Lumpur, MY
An Indonesian :: legal alien in Malaysia :: operations and supply chain management :: engineer and business administrator by education :: tennis and soccer enthusiast :: meat-eater :: a.k.a. adi, tanti, bule :: bleu | linkedin | friendster


http://bleu-blog.blogspot.com/2007/03/bango-mania-blog.html

------------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

13.3.07

Pesta makanan di Bandung


gerbang festival jajanan bango


Oleh Trian H.

Sabtu lalu, Bandung punya hajat. Festival Jajanan Bango, diadakan di lapangan Gasibu Bandung. Perhelatan ini konon pertama kali-nya diadakan oleh Kecap Bango sebelum acara sama di kota-kota lain nantinya. Saya sendiri, datang sekitar pukul 2 siang. Cuaca agak mendung, dan justru membuat tidak panas namun khawatir juga jika akhirnya hujan.

Banyak stan-stan makanan yang turut serta. Ada Pepes Ikan Tasik, Cendol Elisabeth, Batagor Riri, Siomay Dan Es Bungsu, Gado2 Tengku Angkasa, Kantin Sakinah, Kupat Tahu Gempol, Martabak Jepang, Martabak Sanfransisko, Lomie Imam Bonjol, Lontong Kari Gg Kebon Karet, Nasi Bakar 15, Nasi Goreng Lodaya. Lalu ada juga Nasi Timbel Istiqomah, Nasi Tugtug Oncom Saparua, Mie Kocok Skm, Rm Manjabal, Sate Hadori, Sate Maranggi, Soto Bandung Ojolali, Sop Kaki Sapi Pak Kumis Banceuy, Warung Kopi Ranca Kendal, Kafe Enjoy, Es Goyobod, Serabi Imut Setiabudi, Warung Bawal Reds Dipo, Nasi Kuning Pasirkoja dan aneka jajanan khas Bandung.

Bukan hanya makanan khas bandung yang turut serta. Ada “perwakilan” dari daerah lainnya. Sebut saja ketoprak ciragil, nasi uduk laksa betawi yang dari Jakarta, lalu Rawon Setan dan Rujak Cingur Sedati dari Surabaya, serta Soto Udang Kesawan dari Medan.

Arena pameran dibuat tertutup pagar, dengan satu pintu masuk di depan Gedung Sate. Stan-stan dibuat melingkar di bagiam dalam pagar. Sedangkan di tengah-tengahnya selain ruang terbuka, ada deretan meja-meja makan dan counter dari produk makan Unilever macam Teh Sariwangi, Walls dan lainnya. Persis di tengah-tengah arena juga terdapat panggung yang menyajikan hiburan dipandu dua orang MC. Mulanya, lagu-lagu sunda yang dibawakan, kemudian lagu-lagu pop pun mengalir ringan.

Setelah berputar, semakin bingung menentukan pilihan sedangkan waktu sudah hampir jam 3 dan belum makan siang, maka jatuhlah pilihan ke Mie Baso Tegalega. Lumayan juga harganya, 8 ribu se-porsi. Rasanya? Hmm, ga segitunya sebenarnya. Tapi bolehlah, karena ini pesta makanan. Jadi mungkin rasa tidak optimal dan lebih mengejar momen-nya.

Kemudian berpikir, minumnya apa ya? Acara yang jarang seperti ini, minum jangan yang biasa saja. Muter-muter lagi, dan menemukan Es Goyobod. Pertama liat, nama yang aneh. Tapi murah, minum disitu Rp 1500 dan kalau dengan cup yang bisa dibawa Rp 2000. Mungkin karena khas dan murah, antrian pun memanjang. Setelah menunggu 20-an menit, akhirnya giliran tiba. Lama ngantri, masa cuma beli 1. Satu gelas diminum langsung dan 1 cup cukup untuk mereda “nafsu”.

Makan sudah, minum pun sudah. Sekarang, waktunya nyobain jajanan. Muter-muter lagi. Wow, es durian yang dari awal datang banyak antrian, masih saja mengekor sekitar 50-an orang. Niat betul orang-orang ini.

Surabi imut, kayanya asyik. Mendekat, koq sebagian besar perempuan yang pesan. Agak mundur lagi, jadi atau tidak. Jadilah, maka berniat untuk memesan. Tengok harga, rata-rata mulai Rp 4000 (ini mah bukan imut!). Lalu, terdengar bisik-bisik ibu di sebelah, ”antrian 205, sekarang baru 150”. Wah.., bisa sampai maghrib kalau kaya gini. Ikhlaskan sajalah!

Tak terasa, sudah jam 4 lewat. Saya belum Ashar juga. Jadi, waktunya untuk keluar arena. Menikmati juga jalan-jalan sendiri seperti ini. Cuek saja, sekalipun banyak yang datang biasanya berdua atau rame-rame. Pun tak ada teman yang menyapa. Oiya, mungkin karena di hari yang sama ITB punya gawe, wisuda lulusan Maret 2007. Akhirnya, buat teman-teman yang lulus, selamat ya...


http://3an.blogspot.com/2007/03/pesta-makanan-di-bandung.html

------------------------------------------
http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

6.3.07

Kecap Bango gile!




Gile, Kecap Bango ternyata sudah mencapai level cult-brand semacam Harley Davidson atau Apple, dimana pencintanya merasa perlu mendukung segala aktifitas yg berkaitan dengan Kecap Bango! [via Rendy]


Sudah ada 2 comment (kasih comment?)
1. | 19:44 on 6 March 2007 | by rasyid

terus terang Dibanding kecap-kecap lain, kecap cap Bango emang paling enak seh...(asli ga promosi)

2. | 22:20 on 6 March 2007 | by hyoutan

Wah ga tau deh kalo kecap Bango, tapi entah kenapa di antara beberapa temen SMP dan keluargaku malah pada menggemari kecap Blekok (saingan?) impor dari Cilacap. Walaupun kalau kata pakar diet nasi goreng di kelokan jalan sih kecap Blekok lebih banyak kadar gula.

Powered by Movable Type 3.31 | Asia Travel Weblog.com | Gosip Kita |


http://enda.goblogmedia.com/quicklinks/komunitas-pencinta-kecap-bango.html

-------------------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

Festival Jajanan Bango hadirkan 43 penjaja makanan

NUSANTARA

Hidangan Tradisional

Bandung, Kompas - Bandung terpilih sebagai kota pertama tempat diselenggarakannya Festival Jajanan Bango 2007, bertempat di Lapangan Gasibu, Sabtu (3/3). Acara yang digelar selama 11 jam, sejak pukul 11.00 hingga 22.00, itu bertujuan melestarikan warisan kuliner.

Senior Brand Manager Kecap Bango Heru Prabowo, mengatakan, festival kali ini mengambil tema "Aneka Makanan Tradisional Nusantara". Selanjutnya di kota-kota lain juga akan diselenggarakan acara yang sama, yaitu di Surabaya, Jakarta, Medan, dan Makassar. Acara di Surabaya akan dilaksanakan 5 Mei, Jakarta 30 Juni dan 1 Juli, Medan 1 dan 2 September, serta Makassar 1 Desember. Festival serupa pernah digelar di Bandung tahun 2005 dan menjadi upaya penjaja makanan untuk menambah pelanggan dan mengembangkan usahanya. Pada festival tahun ini terdapat lebih dari 43 penjaja makanan yang menyajikan aneka hidangan tradisional.

Setiap penjaja makanan akan menyiapkan 1.000 porsi. Selain itu, tersedia aneka jajanan pasar serta bar yang menyediakan minuman tradisional dan teh Sariwangi. Makanan atau minuman yang dijual antara lain batagor, es cendol, mi kocok, sate, nasi goreng, soto bandung, serabi, siomay, dan es goyobod.

Dalam acara ini, ditampilkan pula bermacam kesenian tradisional, seperti jaipong, debus, parodi operet Lutung Kasarung, dan berbagai kuis dan permainan. Kecap Bango memiliki misi untuk melestarikan berbagai makanan tradisional di Tanah Air.

Hal itu dirasakan penting karena makanan adalah salah satu bagian dari budaya. Beberapa penjaja yang ikut berpartisipasi antara lain pedagang Bubur Ayam Mang Oyo, Sate Kardjan, Sate Hadori, Warung Lela, Batagor Riri, Gado-gado Teuku Angkasa, dan Kantin Sakinah. Masyarakat tampak antre dan antusias untuk masuk ke Lapangan Gasibu. (bay)

KOMPAS - Minggu, 4 Maret 2007

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/04/daerah/3361121.htm

----------------------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

No pass to Java Jazz? No worries...




No pass to Java Jazz? No worries...ada bejibun makanan di Gasibu. Batagor riri, warung lela, reds dipo, rujak cingur sedati surabaya, rawon setan, and many more. Jadi ga nyesel kan ga ntn java jazz?



2 Comments - Show Original Post
Collapse comments

syl'v said...
ada yg menghibur diri ga ntn java jazz hihihih
food fest? great choice 4 u de.. :p

4:26 PM


Fatman said...
Tau ga pi, ponakan gw yg kelas 3 SD ma baby sitter nya aja pada nonton java jazz...sedih

5:41 PM



http://langsungjepret.blogspot.com/



----------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

5.3.07

Bravo Kecap Bango!

From: Imron Cotan
E-mail: imron.cotan@gmail.com
Date: Mon, 5 Mar 2007 16:36:45 +1100

Festival jajan Bango ini adalah strategi marketing cukup hebat yang dilakukan oleh perusahaan Kecap Bango. Saat terakhir diadakan di Lapangan Banteng Jakarta, yang hadir sangat banyak karena memang pesertanya adalah pedagang yang makanannya tersohor di Jakarta.

Bravo Kecap Bango....selalu kecap nomor 1.

--------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

4.3.07

Bubur ayam Mang Oyo




Hmmm......Its my favourite. Bubur ayamnya kental, gak tumpah kalo dibalik di piring. Bubur ayam ini juga istimewa soalnya pake ganja, kerikil, ranjau sama jaket....Nah lo...apaan tuh? Ganja itu istilah buat seledri, kerikil itu kacang kedele, ranjau itu ceker ayam, jaket....nah ini favorit saya juga...kulit ayam yang digoreng kering.

Sarapan bubur ini jam 7 pagi, ditanggung kenyang sampe jam 12 siang. Kenapa yang dipajang kok malah foto mang Oyo, bukan foto buburnya? Soalnya mang Oyo ini saking bekennya, namanya sering dicatut orang2 gak bertanggung jawab.

Sebetulnya mereka dulunya adalah orang-orang yang kerja sama mang Oyo atau yang minta franchise ke mang Oyo, tapi lama-lama seiring naiknya harga bahan baku, mereka enggan mengikuti standar yang ditentukan mang Oyo. Akibatnya mutu bubur dagangan "mang oyo" palsu itu tidak sesuai dengan aslinya lagi. Akibatnya banyak orang yang merasa "tertipu" dan komplain sama mang Oyo "asli", padahal mang Oyo tidak tahu menahu soal itu.

Syukurlah, saat ini kekayaan Intelektual mang Oyo berupa keahlian membuat bubur ayam istimewanya itu telah terdaftar di HAKI ITB.

Ingin mencicipi bubur ayam mang Oyo asli? datang saja ke Vandell cafe jl. Sulanjana, Jl. Gelap nyawang (depan MM ITB), jl. Sarijadi, dan Kantin Bengkok di Kampus ITB. Yang lain? Itu mah palsu.....hehehe

Keistimewaan lain makan di Bubur Ayam Mang Oyo, anak balita makan bubur gratis....(dengan catatan, ibunya pesan 1 porsi dulu). Mau nambah bubur....gratis juga....tapi kalo mau nambah ayamnya sih bayar....

Prev: Mie Kocok Karapitan
Next: Lontong Kari Gg, Kebon Karet

http://ibutio.multiply.com/reviews/item/4

------------------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

Festival Jajanan Bango - Bandung, 2007


by - erryfp - at March 04, 2007 05:24 PM

Sabtu, 3 Maret 2007. 11.00 - 22.00. Lapangan Gasibu, Bandung.

Yak, kemaren siang aku pergi ke acara ini bareng ortuku. This is kinda my fav event, karena banyak makanan enak ngumpul jadi satu di sebuah lapangan yg gede. Bayangin aja, sekitar 40 stand makanan khas Bandung, plus beberapa stand tamu dari Medan, Surabaya, dan Jakarta tumplek-blek di satu tempat. What kind of food you want, just name it. Batagor, mie kocok, martabak, nasi timbel, ikan bakar, ketan bakar, baso tahu, serabi, bubur ayam, lontong kari, mie baso, sate kambing.. semua ada di sini dan semuanya nama ternama di Kota Kembang. Batagor Riri, Mie Kocok SKM, Martabak San Fransisco, Nasi Timbel Ciliwung, Bawal Bakar RedsDipo, Surabi Imut, Bubur Ayam Mang Oyo, Lontong Kari Gg. Kebon Kacang, Warung Lela.. itu baru sebagian loh. Tamu dari kota lainnya ada Ketoprak Ciragil, Nasi Uduk Babe Saman (Jakarta), Rujak Cingur Sedati, Rawon Setan (Surabaya), serta Soto Udang Kesawan & Bika Ambon (Medan).

Acara yg sama pernah diadain di tempat yg sama +- 2 tahun lalu. Waktu itu, aku juga dateng bareng ortu. And it was quite a mess. Peletakan stand yg agak semrawut dan sistem pembayaran yg make kupon (jadi kita mesti ngantre dulu beli kupon, baru bisa beli makanan), membuat suasana yg dijubeli banyak orang terasa tidak nyaman. Udah mah beli kuponnya mesti ngantre, pas beli makanan juga ngantre tak kalah panjang. Makanya, seingetku waktu itu aku cuma beli 1 makanan: sate Hadori. Itupun setelah nunggu lumayan lama dan porsinya pun kurang memuaskan. Makanya, aku rada2 ga expect terlalu banyak juga pas tau ada acara ini lagi tahun ini.

Ternyata dugaanku salah.

Festival Jajanan Bango (FJB) tahun 2007 ini lebih well-organized. Aku emang sengaja dateng agak awal, jam 11.30, dgn harapan lebih gampang nyari parkir. Tapi parkir di sekitar Gasibu udah penuh juga jam segitu. Untung akhirnya aku dapet parkir ga terlalu jauh, di jalan kecil samping kanan Gedung Sate -- seberang Kantor Pusat PT Pos Indonesia. Jalan 5 menit udah nyampe ke Gasibu. Dan suasana di dalem area Festival emang blom terlalu penuh. Rame sih, tapi blom bejubel. Aku keliling2 dulu lah, survei stand2 apa aja yg ada dan di mana letaknya.. Hebatnya, jam segitu, dah ada 3 stand yg diantrein banyak orang: Rujak Cingur Sedati, Rawon Setan, dan Es Durian Kantin Sakinah. Dipikir2 wajar sih, dua nama pertama emang cukup asing & cukup sulit ditemui oleh orang Bandung, sementara nama terakhir, udah jadi rahasia umum, merupakan jajanan yg banyak penggemarnya. Untung aku bukan penggemar durian [in fact, aku cukup benci buah durian] & ortuku pun dah berhenti makan durian, so kami ga tergoda dgn jajanan itu :p.

Jajanan pertama yg aku kunjungin adalah Ketoprak Ciragil. Ini emang udah jadi inceran mamahku sejak dari rumah.. Aku nanya dulu ke penjualnya, belinya mesti pake kupon ato nggak. Harap2 cemas.. dan jawaban si abang sangat melegakan, "Cash bisa, pake kupon juga bisa." Yoweis, pake cash aja lah biar gampang. Dan sepertinya rata2 pengunjung pun milih utk make uang tunai. Ini jelas sebuah 'fasilitas' yg jadi nilai lebih FJB kali ini =).

Pas lagi kepedesan makan ketoprak, aku ngeliat seseorang yg wajahnya tampak familiar. "Hmm.. siapa ya namanya.. kayaknya pejabat rezim OrBa gitu.." Nama pertama yg muncul di kepala ialah Aburizal Bakrie. Tapi aku nggak yakin, karena Bakrie mah masih berkuasa ampe sekarang juga. Aku mikir lagi ampe akhirnya buntu dan nanya ke mamah, siapatau beliau tau. "Oh, itu kan Abdul Latief, " kata mamah. Ah ya! Itu dia nama yg kucari2 dari tadi. Abdul Latief. Mantan menterinya Pak Harto dan kini pemilik Lativi. Inget fakta itu, sebenernya aku pengen ngehampirin beliau, trus nanya, "Pak, kenapa sih Lativi acara2nya nggak bermutu?" Untunglah aku ga sebodoh itu :p. Beliau sepertinya abis olahraga, keliatan dari setelannya yg masih make baju training putih2, trus mukanya merah gitu kayak kepanasan. Dia dateng bareng keluarganya [mungkin anak ceweknya, mungkin istri mudanya? :p] dan kayaknya ada bodyguard juga. Aku sempet ngliat beliau tertarik ama Mie Kocok SKM. Wajar, mie kocok ini kan dah terkenal sejak jaman dulu, tahun '80-an kalo ga salah. Ampe sekarang tempatnya tetep di Jl. Sunda.

Setelah cukup diisi ketoprak, aku & ortuku ngelanjutin keliling2. Antrean di Rujak Cingur & Es Durian (kebetulan dua stand ini bersebelahan, jadi keliatan mencolok banget antreannya) masih puanjang, bahkan klo baca berita di koran tadi sih, panjangnya ampe 10 meter [whoa!]. Hampir 360 derajat lapangan dikelilingin, akhirnya langkah terhenti di depan stand Bawal Bakar RedsDipo. Kami mutusin utk makan berat di situ. Alesannya simpel: stand-nya ga pake ngantre :p. Aku berdua ama mamah mesen kerapu goreng, sementara papap mesen bawal bakar. Nyam nyam nyam.. +- 45 menit kemudian, selesailah makan. Tak dinyana, selama kami makan, makin banyak pengunjung yg dateng. Ngeliat jam.. hoho, dah jam makan siang rupanya. Pantesan...

Nah, satu lagi yg bikin aku salut dari penyelenggaraan FJB tahun ini adalah suasana yg tetap terasa lapang walo pengunjung mulai membludak. Penempatan stand yg penuh mengelilingi Gasibu, plus adanya ruang terbuka di tengah lapang -- cuma ada panggung di tengah2 dan beberapa bangku & meja panjang di sekitar panggung, bikin aku tetep ngerasa nyaman karena konsentrasi pengunjung cukup tersebar. Dibantu pula dgn cuaca yg bersahabat, teduh, sempet gerimis dikit, tapi ga nyampe hujan.

Jajanan terakhir yg aku beli adalah Tahu Bulat. Sebenernya tahu goreng biasa, kayak tahu pong asal Kediri, tapi yg bikin unik adalah bentuknya yg -- sesuai namanya -- bener2 bulet. Entah gimana cara mbentuknya, yg penting rasanya enak. Agak liat2 gitu, sepintas kerasa seperti baso tahu. Usut punya usut, tahu ini adalah produk Ciamis dan kayaknya blom ada cabang di Bandung. Harganya murah, Rp500/buah. Aku beli 20, dan sebagian besar abis dimakan sendiri :p. Ntar klo @cid & Gia pulang kampung ke Ciamis, aku nitip ah...

Tahu Bulat menandai akhir wisata kulinerku di FJB 2007. Sebenernya masih banyak makanan2 yg pengen kucoba, terutama Soto Udang asal Medan ituh. Sayang antreannya masih banyak, sementara waktu makin siang. Yasuw lah, aku cuma bisa berharap, tahun depan Kecap Bango nyelenggarain acara serupa lagi di sini. Klo bisa lebih dari 1 hari, biar makin puas keliling2nya. Jadi kan bisa dibagi tuh, hari I makan A ampe M, hari II-nya makan N ampe Z ;).

Posted on March 04, 2007 at 09:24 AM | Permalink



http://erryfp.blogs.friendster.com/_erryfp_first_blog_/2007/03/festival_jajana.html

-------------------------------------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

Festival Jajanan Bango 2007 di Gasibu, sebuah cerita sehari-hari


3 Maret 2007

Kos 09:00 om



Cerita bermula dari salah seorang temen kos yang barusan pulang dari Gasibu, melihat festival jajanan Bango. Dia, sebut saja Rendy membeli batagor riri dari festival tersebut. Kontan saja kita bertiga (aku, Reza dan Riki) langsung ikut makan. Dan tidak lama si Batagor Riri langsung habis tidak bersisa.

"Eh kita ke sana lagi yuk"
"Yuk sand, sambil cari makan. kita kan belum makan"

Aku berpikir, wah sudah malam nih, paling tidak suka kalo keluar malan-malam.

"Ya udah, yuk"

Gasibu 09:20 PM

Kita berempat berputar-putar di sekeliling gasibu. Banyak sekali tenda dan warung berjualan memeriahkan festival kali ini. Mulai dari yang nyambung dengan kecap bango seperti Batagor Riri, Cafe nasi goreng enjoy, sate maranggi, tim ayam sampai yang tidak nyambung dengan kecap bango seperti martabak san fransisco, martabak asia jepang, es durian, es campur dan es-es lainnya.

Reza dan Riki langsung patungan beli martabak san fransisco yang kata Reza sangat terkenal di Jakarta. Dan harganya ..wow..mahal banget sekitar 30 ribuan untuk satu porsinya.

Sementara aku yang tidak suka martabak manis kembali berkeliling ditemani sama Rendy.

"Beli es durian aja sand"
"Es...??!!"
"Enak pasti duriannya.."

Padahal di kos, aku udah ngerasa pusing kalau bu kos dan keluarganya lagi pesta durian. Tidak hanya sekali. Tapi bisa berkali-kali. Hingga rumah beraroma durian. Waks...


"Ato kalo ngga es campur ..."
"Es lagi ...??!!!"
"...iya.."
"gimana kalo nasi tim ayam ?"
"Nggak ah ..sate maranggi aja..."
"Duh ngantri nya males banget...lihat tuh panjang antriannya..., Gimana nih ...kamu jadi beli apa Ren ?"
"Kalau kamu beli sate maranggi aku juga beli.."
"Kalau nggak ?"
"Ya aku juga ngga beli.."
"Waks....."
"Gimana kalo nasi goreng aja .."

............

"Kalian beli apa ?"
"Nasi goreng ... hahahaha ....Sandy sih ngga sabaran orang nya ...jadinya ya beli nasi goreng"
"Wakss..."
"Yahhh...nasi goreng sih udah biasa kali .."


Hux kok jadi aju yang dianggap ga sabar. Yang ngajak beli nasi goreng tadi siapa coba ...benar-benar tidak konsisten. Selama makan aku akhirnya cuman diam, lebih tepatnya cuek sama ketiga temenku. Suasananya ngga enak sebenernya. Tapi gimana lagi..sudah terlanjur BT. So what dengan nasi goreng!!! Emang susah ngajak makan orang yang belum pernah makan yang aneh-aneh. Maunya makan yang ngga biasa. Padahal kalo dihitung-hitung makanan di festival itu ya gitu-gitu aja. Sama sekali tidak ada yang baru dan menarik.

Dan martabak yang tadi dibeli juga tidak dihabiskan. Mungkin karena rasanya yang sangat biasa. Dan akhirnya dibawa pulang. Entah kenapa semua orang suka yang namanya wisata kuliner. Lebih tepatnya makan! Padahal sebaiknya makan yang biasa-biasa saja, tidak usah berlebihan. Banyak makan bisa jadi sangat konsumtif dan tidak baik untuk kesehatan.


http://sandclow.blogspot.com/2007/03/festival-jajanan-bango.html

--------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

Sayang, menikmati kelezatan itu hanya sehari




PENGUNJUNG antre saat akan memasuki stan nasi bakar, pada "Festival Jajanan Bango 2007" di Lapangan Gasibu Bandung, Sabtu (3/3). Beragam jajanan khas Kota Bandung bisa ditemui dalam acara yang diserbu warga kota ini.*DUDI SUGANDI/"PR"


BANDUNG RAYA

”KENAPA hanya sehari?” Pertanyaan itu kerap dilontarkan para pengunjung Festival Jajanan Bango (FJB) 2007 yang digelar di lapangan Gasibu, Kota Bandung, Sabtu (3/3). Mereka terlihat sangat antusias menyambut FJB kedua yang digelar di Kota Kembang tersebut, sebelumnya digelar pada 2005.

“Ya sayang aja lah. Soalnya lumayan juga ada festival seperti ini. Kami jadi enggak usah keliling Kota Bandung untuk mencari makanan tradisional yang enak-enak karena semua ngumpul di sini,” kata salah seorang pengunjung, Puji (28).

Hal senada dikemukakan Rio (21) yang datang bersama teman-temannya. Mereka sengaja datang karena memiliki satu hobi yang sama, makan. ”Kami berlima hobinya makan. Jadi, FJB benar-benar memfasilitasi kami untuk mencicipi makanan enak yang bukan hanya khas Bandung, tapi juga khas daerah lain,” kata Rio sembari mengunyah batagornya.

Memang, selain menampilkan 43 stan makananan yang sudah kondang di Kota Bandung seperti serabi Imut, batagor Riri, bubur ayam H. Mang Oyo, dan lainnya, FJB juga menampilkan stan-stan makanan khas Medan, Surabaya, maupun Jakarta yang tak kalah banyak peminatnya. Seperti soto udang kesawan khas Medan buatan Yatiman. Hanya dalam waktu dua jam sejak pembukaan FJB pada pukul 11.00 WIB, dagangan mereka sudah habis terjual.

“Kami tidak menyangka masyarakat Kota Bandung begitu antusias dengan soto udang kesawan. Hanya dalam waktu dua jam, 1.000 porsi yang kami siapkan habis terjual,” kata Dewi, putri Yatiman.

Beberapa stan lainnya yang memiliki antrean lebih dari 10 meter yakni es durian Kantin Sakinah dan rujak cingur Sedati Surabaya. “Saya ikutan ngantri karena enggak tahan cium bau durian. Soalnya saya suka sekali durian,” ujar Herman (45). Sementara Elsa (21) tak mau ketinggalan antre bersama puluhan orang lainnya di stan rujak cingur Sedati Surabaya karena penasaran ingin tahu rasanya. “Ya, kan jarang-jarang ada rujak cingur di Kota Bandung. Apalagi antreannya panjang banget, pasti enak.”

Makanan tradisional

Heru Prabowo, Senior Brand Manager Kecap Bango mengatakan, melalui FJB mereka ingin melestarikan masakan khas tradisional yang sudah dinikmati secara turun- temurun. “Sebab saat ini keberadaan makanan tradisional banyak yang terdesak oleh makanan siap saji dari luar negeri.”

Kota Bandung merupakan kota dengan animo masyarakat tertinggi. “Warga Bandung ini sepertinya memang suka acara-acara seperti ini. Bisa dibilang, mereka hobi sekali menonton atau menikmati berbagai pergelaran yang digelar di tempat umum,” kata Heru.

Jika pada 2005 FJB mampu mengumpulkan sebanyak kurang lebih 30.000 pengunjung, kali ini jumlahnya lebih banyak. “Kalau bisa lebih banyak dong, ya kami ingin mengumpulkan sebanyak-banyaknya saja. Sejauh ini, cukup berhasil kok,” kata Heru.

Kenapa hanya satu hari? “Pengennya sih malah lebih dari dua hari. Tapi, untuk kali ini kami putuskan satu hari saja dengan durasi yang lebih panjang yakni 11 jam, mulai dari pukul 11.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.,” kata Heru.

Jawaban Heru pasti tidak akan membuat warga Kota Kembang puas. Jadi, berdoa saja agar FJB hadir lagi di Kota Bandung tahun depan, tentunya dengan durasi lebih lama dan jenis makanan yang lebih beragam. (Feby Syarifah/”PR”)***

(C) 2006 - Pikiran Rakyat Bandung
Dikelola oleh Pusat Data Redaksi (Unit: Cyber Media-Dokumentasi Digital)

Pikiran Rakyat - 4 Maret 2007

-----------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

3.3.07

Kuliner's Day




Namanya juga anak kos, jarang-jarang kan ketemu makanan enak. Apalagi kalau makanan yang dibilang enak itu adalah makanan gratisan. Pastinya, selain tambah enak di lidah, hitung-hitung juga buat ngirit uang kiriman dari orang tua. Tapi tenang, kali ini saya benar-benar mendefinisikan "makanan enak" sebagaimana arti yang sebenarnya...

Masih berkaitan dengan makanan, interaksi saya dengan makanan pada hari ini bisa dikatakan sangat intens. Karena siang tadi, saya dan Betha pergi berboncengan naik motor ke "Festival Jajanan Bango" yang diselenggarakan di Lapangan Gasibu Bandung. Rencana kami pergi ke sana adalah untuk melakukan wisata kuliner. Itu lho, kayak yang ada di tivi-tivi belakangan ini.

Perjalanan wisata kami mencari makanan dimulai pada pukul setengah satu siang (kurang lebih) setelah kami melaksanakan sholat zhuhur di masjid Museum Geologi. Awalnya, kami berdua masih bingung hendak makan apa. Karena puluhan stand makanan memadati lapangan gasibu. Dengan melihat kondisi seperti itu, kami pun sepakat untuk mengawali perjalanan wisata kuliner ini dengan terlebih dahulu mengitari lapangan gazibu.

Menjelang satu putaran (lapangan Gasibu), ternyata rong-rongan dari perut saya semakin menguat. Seakan-akan perut saya sudah tahu dimana ia berada saat ini, bahwa ia tengah berada di tempat yang penuh makanan dan minuman. Maka dari itu, sehubungan dengan kondisi perut yang sudah mulai bermusikalisasi dengan sedemikian merdunya, saya dan betha memutuskan untuk segera memulai acara wisata kuliner ini.

#1 Nasi Gila dkk, Rp 9000,-
Jajanan pertama yang saya cicipi ini, cukup mengenyangkan. Kombinasi antara nasi putih yang ditaburi abon sapi dengan lauk berupa daging ayam, telor, dan sayur yang ketiganya dicampur-adukkan menjadi satu dan dibumbui seperti ayam kuluyuk. Ditambah, tahu bulat yang di-cocol ke saos tomat, juga semakin menambah keanekaragaman rasa dari masakan ini.


#2 Es Teh-Jeruk dan Teh manis, Rp 3000,- & Rp 2500,-
Sehabis makan, tentunya tenggorokan jadi agak seret. Makanya kami pun segera mencari stand terdekat yang menjual minuman. Hingga akhirnya pandangan kami tertuju kepada stand Teh Sari Wangi. Tanpa pikir panjang, kami akhirnya membeli satu gelas Es Teh-Jeruk dan Es Teh Manis, dan setelah itu kami pun mencari tempat duduk di "dining area".

#3 Telo, Rp 5000,-
Di jawa makanan ini biasa disebut "Telo". Tahu artinya? Ya, itu merupakan sebutan singkat untuk ketela (singkong) dalam bahasa jawa prokem. Menu ke-3 ini merupakan masakan yang bahan dasarnya adalah singkong yang di kukus. Agar rasanya tidak hambar, oleh si penjual yang kreatif ini, pada singkong tersebut dituangkan saos rasa "strawberry" dan "berry". Sebagai penambah rasa cemilan tadi juga ditaburi oleh keju parut. Hmmm... Kebayang kan gimana kenyangnya.

Perjalanan wisata ini berakhir pada pukul 14.00 WIB. Ditutup dengan prosesi makan menu #3 yang dilakukan di anak-anak tangga lapangan gasibu (tepat di depan gedung sate). Disana kita mengakhiri perjalanan ini dengan kondisi perut sama-sama kenyang dan mata yang sama-sama mengantuk. Akan tetapi, itu semua segera hilang setelah kami melanjutkan perjuangan kuliner kami di Es Goyobod Jl. Kliningan. Tarik mang.....!!!!!

Posted by Raden Mas Arki Rifazka at 4:49 PM 3 comments

Tag Arki Rifazka, Bandung, Gasibu, Goyobod, Kuliner, Nasi Gila, Telo

3 comments:
cahaya said...
wuihh.........jadi ngiler...
ga sempet kesana euy...

hmm...tapi apa muat ya klo makan segitu banyak....

March 3, 2007 10:07 PM
acha said...
nyesel gue ngga dateng :(

March 4, 2007 3:06 PM
hery said...
Waduuhhh, ngiler nih, mesti harus bersabar aku untuk menikmati itu semua karena ditempatku nggak ada :(

March 6, 2007 11:29 AM


http://arki-rifazka.blogspot.com/2007/03/kuliners-day.html

---------------------------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

Festival Jajanan Bango 2007 di Bandung diserbu pengunjung







Bandung, Sabtu -- Ribuan warga Bandung dan warga Jakarta yang berlibur di Kota Bandung ’menyerbu’ Festival Jajanan Bango 2007 yang digelar di Lapangan Gasibu Kota Bandung, Sabtu.

Festival jajanan yang berlangsung mulai pukul 11.00 WIB hingga 22.00 WIB itu diikuti oleh 43 penjaja makanan jajanan dengan sajian aneka ragam makanan dan jajanan khas Jawa Barat serta semua masakan enak dan kondang dari Surabaya, Jakarta, Medan dan Makasar.

Beberapa masakan jajanan kondang asal Kota Bandung ikut ’manggung’ dan memanjakan penikmat kuliner nusantara dalam festival itu antara lain Batagor Riri, Sate Karjan, Sate Hudori, Nasi Edan, Nasi Tutug Oncom, RM Manjabal, Es Goyobod, Soto Bandung Ojolali, nasi Mak Uneh, Cendol Elizabeth, Surabi Imut serta beberapa masakan lainnya.

Sedangkan beberapa makanan jajanan asal Surabaya yang ’nongkrong’ di festival yang bertema "Aneka Masakan Tradisional Nusantara" itu adalah Nasi Rawon Setan Bu Sup dan Rujak Cingur Sedati asal Surabaya, kemudian Ketoprak Ciragil dan Nasi Uduk Babe Saman Jakarta serta Soto Udang Kesawan Medan.

Para penikmat kuliner ’dimanjakan’ oleh para peserta festival yang rata-rata menyediakan masakan andalannya diatas 1.000 porsi. Tak heran di setiap stand terutama jajanan yang cukup kondang terjadi antrian panjang dari pengunjung yang ingin mencicipi masakan itu.

Rata-rata para pengunjung memboyong anggota keluarganya menikmati makanan tersebut. Cuaca mendung sejak pagi hari membuat aktifitas pengunjung di sana lebih santai karena terhindar dari terik matahari.

Kegiatan itu juga memaksa petugas kepolisian dari Polwiltabes Bandung dan Polresta Bandung Tengah melakukan rekayasa jalur untuk menghindari kemacetan lalu lintas di sekitar Lapangan Gasibu itu.

Kota Bandung menjadi kota pertama yang menjadi ajang festival jajanan yang diselenggarakan oleh produk kecap terkenal itu.

"Kegiatan ini sebagai upaya melestarikan warisan kuliner nusantrara yang keberadaanya saat ini terdesak dengan hadirnya makanan siap saji. Pada festival ini masakan enak dan kondang dari Jabar dan empat daerah itu bisa digiring ke dalam satu piring," kata Manajer Cabang Kecap Bango, Heru Prabowo yang menjadi motor kegiatan Festival Jajanan 2007 itu.

Festival makanan tradisional yang harganya rata-rata dibawah harga biasanya itu akan digelar di Surabaya, Medan, Jakarta dan Makasar.



Sumber: Antara
Penulis: jodhi

Pariwisata Sabtu, 03 Maret 2007 - 21:24 wib

http://www.kompas.com/ver1/Egovernment/0703/03/212426.htm

-------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

2.3.07

Bahan pengawet saus dan kecap lebihi ambang batas

JAKARTA -- Bahan pengawet pada sebagian besar produk saus dan kecap manis lokal di sejumlah daerah ternyata melebihi batas maksimum yang ditetapkan Departemen Kesehatan. Hal ini terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) pada Januari hingga Februari 2007.

Anggota tim peneliti LKJ, Lies Pramana Sari, mengatakan bahwa kandungan pengawet yang terdapat pada saus dan kecap yang diteliti adalah natrium benzoat dan kalium sorbat. Saat memaparkan hasil penelitian LKJ di Jakarta, Rabu (28/2), Lies menyebutkan bahwa bahan pengawet pada lebih dari separuh sampel saus dan kecap lokal yang diproduksi di Bali, Makasar, Yogyakarta, Padang, Batam, dan Medan melebihi ambang batas maksimum yang diizinkan.

Enam dari sembilan merek saus sambal lokal yang diteliti mengandung pengawet natrium benzoat lebih dari 1.000 mg/kg. Itu merupakan batas maksimum penggunaan natrium benzoat pada saus menurut Permenkes Nomor 722/Menkes/PER/ IX/1988. Merek produk-produk tersebut adalah Sumber Agung di Makassar (4.656 mg/kg), Cap Cabe Payung di Batam (3.114 mg/kg), Tri Sari di Surabaya (2.165 mg/kg), Cap AVE di Medan (1.311 mg/kg), Sari Nikmat di Jakarta (1.353 mg/kg), dan Cap Captain di Medan (1.231 mg/kg. Saus tomat Sumber Jaya produksi Makassar dan Cap Tomato produksi Surabaya juga mengandung Natrium Benzoat melebihi batas maksimal yakni masing-masing 1.037 mg/kg dan 1.601 mg/kg.

Sementara, dalam produk kecap manis lokal, dari delapan merek produk yang diteliti, enam di antaranya mengandung pengawet melebihi batas maksimal yang diizinkan yakni 600 mg/kg. Kandungan natrium benzoat pada kecap cap Ayam Panggang produksi Makassar sebanyak 802 mg/kg, KOKI produksi Semarang 1.276 mg/kg, Ikan Bawang produksi Surabaya 1.109 mg/kg, Burung Bangau produksi Padang 1.194 mg/kg, dan Panah Sinar Langkat di Medan sebanyak 2.103 mg/kg.

Kalium sorbat yang sebenarnya bukan termasuk bahan pengawet kecap manis dan saus juga ditemukan pada beberapa produk kecap manis dan saus lokal. ''Penggunaan kedua jenis pengawet tersebut memang dibolehkan, tetapi ada batas maksimal penggunaan yang harus ditaati,'' kata alumni Jurusan Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Menurut dia penggunaan bahan pengawet makanan melebihi ambang batas maksimal yang ditentukan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan. ''Menurut penelitian FAO, konsumsi benzoat berlebihan pada tikus dapat menyebabkan kematian dengan gejala hiperaktif, sawan, kencing terus-terusan, dan penurunan berat badan,'' katanya serta menambahkan penelitian tentang dampak konsumsi pengawet biasanya memang dilakukan pada hewan.

Koordinator peneliti LKJ dr Nurhasan menambahkan, pihaknya merekomendasikan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Balai POM daerah, dan pemerintah daerah agar memberikan sanksi administratif kepada produsen yang bersangkutan.

(ant )

http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=284564&kat_id=13

----------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content

Festival Jajanan Bango 2007

Surat Pembaca

Untuk melestarikan makanan dan jajanan khas Indonesia, kecap Bango kembali
menggelar acara tahunan Festival Jajanan Bango atau FJB untuk ketiga kalinya
di berbagai kota di Indonesia. Festival ini diadakan sebagai bentuk
kepedulian terhadap pelestarian masakan dan jajanan Nusantara warisan nenek
moyang di tengah serbuan makanan dari luar negeri.

FJB akan diadakan di lima kota, yaitu Bandung sebagai kota pertama, disusul
dengan Surabaya, Jakarta, Medan, dan Makassar. Dalam FJB ini dihadirkan
pedagang-pedagang makanan tradisional Indonesia dan mereka akan mengisi
stan-stan yang disediakan. Selain itu, ada pula dua wakil pedagang dari
masing-masing kota tempat diadakannya FJB 2007. Tidak lupa, kesenian daerah
seperti debus juga akan ikut meramaikan acara ini.


MARIA D DWIANTO
External Communications Manager
PT Unilever Indonesia Tbk


KOMPAS JAWA BARAT - Jumat, 02 Maret 2007


---------------------

http://kecap-bango.blogspot.com

Sphere: Related Content